Kemandirian teknologi menjadi isu strategis global di tengah meningkatnya kompetisi industri, transformasi energi, dan penguatan rantai pasok nasional di berbagai negara. Penguasaan teknologi industri berperan penting dalam menentukan daya saing ekonomi, kapasitas manufaktur, serta ketahanan industri strategis. Dalam sektor energi dan petrokimia, pengembangan teknologi katalis menjadi perhatian utama karena katalis memegang peran penting dalam berbagai proses produksi industri modern. Dalam konteks tersebut, Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap produk dan teknologi katalis impor untuk memenuhi kebutuhan industri energi, petrokimia, dan sektor strategis lainnya. Kondisi ini berdampak pada tingginya biaya pengadaan, keterbatasan penguasaan teknologi domestik, serta lemahnya ketahanan rantai pasok nasional. Pengembangan industri katalis dalam negeri menjadi langkah penting untuk memperkuat kemampuan nasional dalam produksi teknologi strategis sekaligus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Kebutuhan terhadap penguatan teknologi domestik tersebut mendorong pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga riset dalam proses hilirisasi teknologi nasional. Mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Siswanto dari kelas Master by Research konsentrasi Teknik Sistem Industri, telah melaksanakan Seminar Hasil 2 pada Jumat (22/5) pukul 10.00 WIB. Ia mempresentasikan penelitian berjudul “Tinjauan Kolaborasi Triple Helix dalam Pabrik Katalis Merah Putih Guna Kemandirian Teknologi Dalam Negeri & Peningkatan TKDN (Studi Kasus Afiliasi BUMN Berbasis Riset).” Dalam penelitian ini, pendekatan Triple Helix digunakan untuk menganalisis sinergi antara pemerintah, BUMN/industri, serta akademisi dan lembaga riset dalam pengembangan Pabrik Katalis Merah Putih. Pendekatan ini menempatkan pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan regulator, BUMN sebagai pelaku hilirisasi dan komersialisasi teknologi, serta akademisi dan lembaga riset sebagai pengembang inovasi dan teknologi katalis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pabrik Katalis Merah Putih menjadi contoh penting hilirisasi riset dalam negeri melalui kolaborasi Triple Helix. Kolaborasi ini mampu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri secara langsung, sehingga proses pengembangan teknologi tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi berlanjut hingga implementasi industri dan komersialisasi produk. Dalam aspek kebijakan, pemerintah memiliki peran strategis melalui regulasi peningkatan TKDN, pemberian insentif, dukungan terhadap program strategis nasional, serta penciptaan iklim industri yang mendukung penggunaan produk katalis lokal. Dukungan kebijakan menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi teknologi domestik dan memperkuat posisi produk katalis nasional di pasar industri.
Sementara itu, BUMN dan afiliasinya berperan dalam proses produksi, validasi industri, komersialisasi, serta penyediaan fasilitas manufaktur untuk pengembangan katalis lokal. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan BUMN sebagai pengguna awal produk katalis domestik menjadi faktor penting dalam memperkuat kepercayaan pasar dan mempercepat penetrasi produk ke sektor industri nasional. Pada sisi akademik dan riset, lembaga penelitian berkontribusi dalam pengembangan formulasi katalis, pengujian performa, standardisasi awal, serta transfer pengetahuan kepada sektor industri. Peran akademisi menjadi penting dalam memastikan pengembangan teknologi berjalan berbasis riset dan memenuhi kebutuhan teknis industri secara berkelanjutan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengembangan katalis lokal berkontribusi terhadap peningkatan TKDN melalui penggunaan bahan baku domestik, tenaga kerja nasional, fasilitas produksi dalam negeri, serta penguasaan proses manufaktur oleh industri nasional. Penguatan kapasitas ini mendukung pengembangan rantai pasok industri yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam pengembangan industri katalis nasional. Kendala utama meliputi keterbatasan skala produksi, kebutuhan investasi lanjutan, tantangan standardisasi kualitas, kesiapan bahan baku lokal, serta penerimaan pasar dari industri pengguna. Selain itu, kolaborasi antar aktor masih memerlukan pembagian peran yang lebih jelas, komunikasi yang terstruktur, dan komitmen jangka panjang agar proses hilirisasi berjalan lebih efektif. Dalam perspektif sistem industri, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan teknologi nasional memerlukan integrasi antara kebijakan, kapasitas industri, dan penguatan riset secara simultan. Pendekatan Triple Helix memberikan kerangka kolaborasi yang mampu mempercepat hilirisasi inovasi serta memperkuat daya saing industri nasional berbasis teknologi domestik.
Penelitian ini berada di bawah bimbingan Prof. Bertha Maya Sopha, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. sebagai dosen pembimbing utama dan Ir. Wangi Pandan Sari, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai dosen pembimbing pendamping. Keterlibatan mahasiswa dalam riset ini mencerminkan penguatan kapasitas akademik dalam pengembangan sistem industri dan hilirisasi teknologi nasional. Melalui penelitian ini, MeTSi FT UGM memperkuat pengembangan riset berbasis sistem untuk mendukung kemandirian teknologi, penguatan industri nasional, dan peningkatan daya saing manufaktur domestik. Integrasi antara riset, industri, dan kebijakan menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem inovasi nasional yang berkelanjutan.
Ditulis oleh Arham