Kemandirian teknologi menjadi salah satu agenda strategis Indonesia dalam memperkuat daya saing industri nasional di tengah meningkatnya kompetisi global. Pada sektor industri proses, salah satu tantangan utama adalah tingginya ketergantungan terhadap impor katalis yang masih mendominasi kebutuhan dalam negeri. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada besarnya devisa yang keluar setiap tahun, tetapi juga menunjukkan pentingnya penguatan ekosistem inovasi nasional yang mampu menghubungkan pemerintah, industri, dan perguruan tinggi dalam menghasilkan teknologi strategis secara mandiri.
Isu tersebut menjadi fokus penelitian Siswanto, mahasiswa Master by Research Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dari konsentrasi Teknik Sistem Industri. Dalam Seminar Hasil Tesis yang diselenggarakan pada Senin (6/7) di Perpustakaan Gedung MeTSi Lantai 2, Siswanto mempresentasikan penelitian berjudul “Tinjauan Kolaborasi Triple Helix dalam Pabrik Katalis Merah Putih Guna Kemandirian Teknologi Dalam Negeri & Peningkatan TKDN (Studi Kasus Afiliasi BUMN Berbasis Riset).”
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor katalis dengan nilai kebutuhan nasional mencapai sekitar USD 500 juta per tahun atau setara Rp7,5 triliun, sementara kapasitas produksi domestik pada awal 2025 baru mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan nasional. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, pemerintah menetapkan Pabrik Katalis Merah Putih sebagai Proyek Strategis Nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020 yang dioperasikan oleh PT Katalis Sinergi Indonesia (KSI), sebuah konsorsium yang melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB), PT Pertamina, dan PT Pupuk Indonesia. Penelitian ini berupaya menjawab bagaimana kolaborasi antarlembaga tersebut berkembang dari waktu ke waktu dan bagaimana kebijakan dapat memengaruhi keberhasilan penguatan industri katalis nasional.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian mengintegrasikan konsep Triple Helix dengan pendekatan System Dynamics melalui desain mixed-methods. Tahap pertama menghasilkan Causal Loop Diagram (CLD) yang dibangun dari kajian literatur, analisis dokumen periode 2018–2024, focus group discussion lintas pemangku kepentingan, serta validasi oleh pakar. Selanjutnya, model tersebut dikembangkan menjadi Stock Flow Diagram (SFD) yang dikalibrasi menggunakan data historis periode 2020–2024 dan divalidasi melalui serangkaian pengujian struktural maupun perilaku model sebelum digunakan untuk mensimulasikan berbagai alternatif kebijakan hingga tahun 2028.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi Triple Helix berkembang mengikuti pola berbentuk kurva-S, di mana fase awal didorong oleh penguatan pembelajaran, investasi, dan komitmen kebijakan, sedangkan pada fase berikutnya sistem mulai menghadapi berbagai faktor penyeimbang, seperti meningkatnya biaya operasional, tekanan terhadap tingkat pengembalian investasi, serta risiko keusangan teknologi. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan industri katalis nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kemampuan seluruh aktor dalam menjaga kualitas kolaborasi dan respons terhadap perubahan lingkungan.
Melalui simulasi berbagai skenario kebijakan, penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat satu kebijakan yang unggul untuk seluruh tujuan pengembangan industri. Skenario insentif fiskal menghasilkan kinerja investasi yang paling baik, skenario ekspansi kapasitas memberikan peningkatan pendapatan dan pangsa pasar tertinggi, sedangkan skenario integrasi penuh menunjukkan capaian terbaik dalam peningkatan kapabilitas teknologi, kualitas kolaborasi, dan kepatuhan lingkungan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pemilihan kebijakan perlu disesuaikan dengan prioritas pembangunan yang ingin dicapai oleh para pemangku kepentingan.
Berdasarkan hasil simulasi, penelitian merekomendasikan strategi bertahap selama empat tahun yang diawali dengan penguatan pasar melalui insentif fiskal dan ekspansi kapasitas produksi secara moderat, kemudian dilanjutkan dengan penguatan kapabilitas teknologi melalui integrasi rantai pasok, pengembangan Knowledge Management System, serta pembentukan Joint Innovation Lab. Penelitian juga menunjukkan bahwa ketepatan waktu implementasi kebijakan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan besarnya alokasi anggaran, sehingga evaluasi kebijakan perlu dilakukan secara adaptif mengikuti perubahan kondisi eksternal.
Dari sisi akademik, penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengoperasionalkan konsep Triple Helix yang selama ini lebih banyak digunakan sebagai kerangka konseptual menjadi model dinamis yang dapat dianalisis dan disimulasikan. Pendekatan tersebut memungkinkan hubungan antarpemerintah, industri, dan perguruan tinggi dipahami sebagai suatu sistem yang saling memengaruhi melalui mekanisme umpan balik, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih komprehensif dalam pengembangan teknologi strategis nasional.
Penelitian ini berada di bawah bimbingan Prof. Ir. Bertha Maya Sopha, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. sebagai dosen pembimbing utama dan Ir. Wangi Pandan Sari, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai dosen pembimbing pendamping. Melalui penelitian ini, MeTSi FT UGM terus memperkuat pengembangan riset rekayasa sistem yang mendukung penguatan industri nasional melalui integrasi pemodelan sistem, inovasi teknologi, dan analisis kebijakan berbasis bukti. Pendekatan yang dikembangkan menunjukkan bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dapat diterjemahkan ke dalam model yang mampu mendukung perumusan kebijakan secara lebih adaptif untuk mempercepat kemandirian teknologi, meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dan memperkuat daya saing industri Indonesia.
Penulis: Arham