Pemilihan Alternatif Biomassa Potensial untuk Cofiring PLTU Batu Bara dengan Pendekatan Fuzzy AHP dan Technique For Order Preference By Similarity to Ideal Solution (Topsis) (Studi Kasus : PLTU Punagaya Jeneponto Sulawesi Selatan)
Mahasiswa Peneliti:
Anis Ulfa Widya Astika
Dosen Pembimbing:
Prof. Ir. Bertha Maya Shopa, S.T., M. Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.
Ade Kurniawan, S.T., M.Eng., Ph.D.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis biomassa paling potensial yang dapat digunakan dalam program cofiring di PLTU Punagaya Jeneponto, Sulawesi Selatan, sebagai salah satu upaya transisi energi menuju pengurangan emisi karbon dan optimalisasi energi terbarukan. Mengingat kondisi operasional dan pasokan biomassa yang beragam, dibutuhkan metode pengambilan keputusan yang mampu mengakomodasi berbagai kriteria teknis, ekonomi, logistik, lingkungan, dan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fuzzy AHP) untuk pembobotan kriteria dan sub-kriteria, serta Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) untuk perangkingan alternatif biomassa. Data primer diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada pemangku kepentingan terkait, seperti manajemen PLTU, penyedia biomassa, dan pemerintah daerah. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari laporan teknis, studi pustaka, dan hasil uji kualitas biomassa. Alternatif biomassa yang dianalisis mencakup bonggol jagung, sekam padi, woodchips, serbuk kayu (sawdust), sabut kelapa, dan ampas tebu. Kriteria evaluasi dibagi menjadi lima aspek utama: operasi (total moisture, ash content, calorific value), supply chain (ketersediaan lokal, kontinuitas pasokan, jarak lokasi), ekonomi (harga dan biaya penanganan), lingkungan (emisi CO₂, SOx, NOx), dan sosial (penerimaan masyarakat, lapangan kerja lokal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sub-kriteria calorific value, emisi CO₂, dan harga biomassa merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan biomassa. Melalui perhitungan TOPSIS, alternatif woodchips menempati peringkat tertinggi dengan skor 0,75, diikuti oleh bonggol jagung (0,63) dan sawdust (0,47). Woodchips unggul karena memiliki nilai kalor tinggi, kadar abu rendah, serta pasokan yang relatif stabil dari wilayah sekitar. Dengan pendekatan terstruktur dan berbasis data ini, diharapkan hasil penelitian dapat menjadi dasar perencanaan strategi energi berkelanjutan di PLTU serupa.
Kata kunci: cofiring, biomassa, PLTU, Fuzzy AHP, TOPSIS