Pemetaan Kerentanan Gerakan Tanah di Area PLTA Besai Menggunakan Analytical Hierarchy Process dan Sistem Informasi Geografis
Mahasiswa Peneliti:
Sasiji Prabu Ningrat
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr.Eng. Ir. Wahyu Wilopo S.T., M.Eng., IPM.
Ir. Joko Waluyo, M.T., Ph.D., IPM, ASEAN Eng., APEC Eng.
Longsor merupakan salah satu bahaya alam yang signifikan di wilayah pegunungan, terutama pada daerah dengan topografi curam, curah hujan tinggi, dan penggunaan lahan yang intensif. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan kerentanan gerakan tanah di area Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Besai dengan mengintegrasikan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuh faktor utama yang dianalisis dan diberi bobot menggunakan AHP berdasarkan penilaian ahli dan perbandingan berpasangan meliputi kemiringan lereng, arah lereng, tutupan lahan, jarak terhadap jalan, jarak terhadap sungai, jarak terhadap kelurusan geologi, dan indeks kelembapan (Topographic Wetness Index). Konsistensi matriks perbandingan divalidasi menggunakan Consistency Ratio (CR), dimana seluruh nilainya berada di bawah ambang batas yang dapat diterima (CR < 0,1). Peta kerentanan diklasifikasikan ke dalam lima kategori yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kemiringan lereng (32,7%), jarak terhadap jalan (28,5%), dan jarak terhadap sungai (15,4%) merupakan faktor paling berpengaruh terhadap risiko gerakan tanah di wilayah studi. Peta akhir mengungkapkan bahwa 6,58% wilayah termasuk dalam kategori risiko sangat tinggi, dan 18,81% termasuk dalam kategori risiko tinggi. Studi ini menegaskan pentingnya integrasi AHP dan SIG dalam mendukung perencanaan spasial yang efektif dan strategi pengurangan risiko bencana di daerah yang rawan longsor.
Kata kunci: Analytical Hierarchy Process, Sistem Informasi Geografis, Gerakan Tanah, Peta Kerentanan.