Upaya memperkuat kemandirian energi nasional kembali mendapatkan dorongan baru melalui penelitian inovatif yang dilakukan oleh Margareta Rosemary, mahasiswa Program Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik UGM angkatan 2024 genap. Penelitiannya menghadirkan pendekatan ramah lingkungan untuk meningkatkan produksi biomassa mikroalga—sumber energi baru terbarukan yang kian dilirik sebagai bahan baku biofuel, termasuk bahan bakar pesawat rendah emisi.
Mikroalga dikenal sebagai biomassa generasi ketiga dengan berbagai keunggulan: masa budidaya yang sangat cepat (dapat dipanen dalam 7 hari) serta kemampuan menyerap emisi karbon hingga 25 kali lebih tinggi dibandingkan tanaman pada umumnya. Potensi ini menjadikan mikroalga sebagai kandidat kuat dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE). Meski demikian, produksi mikroalga dalam skala industri masih menghadapi tantangan biaya nutrisi dan kebutuhan teknologi yang efisien.
Dalam penelitiannya, Margareta mengeksplorasi pemanfaatan eco enzim yang merupakan cairan hasil fermentasi kulit buah sebagai sumber fitohormon dan mineral alami untuk merangsang pertumbuhan mikroalga Chlorella vulgaris. Eco enzim selama ini dikenal sebagai produk ramah lingkungan yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik rumah tangga. Pendekatan ini tidak hanya menjawab isu keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang penghematan biaya produksi.
Melalui variasi dosis eco enzim (0–7 mL/L), nutrisi (0,5–1,5 mL/L), dan pH kultur (6–10), penelitian ini mengukur dampaknya terhadap kepadatan sel mikroalga. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi eco enzim 7 mL/L, nutrisi 0,5 mL/L, dan pH 10 mampu meningkatkan kepadatan sel C. vulgaris hingga 22%, sekaligus menurunkan kebutuhan nutrisi sebanyak 50% dibandingkan perlakuan kontrol.
“Temuan ini menunjukkan bahwa eco enzim berpotensi besar sebagai alternatif aditif alami yang tidak hanya meningkatkan biomassa mikroalga, tetapi juga lebih ekonomis serta ramah lingkungan,” jelas Rosa.
Penelitian ini diharapkan dapat diterapkan di industri mikroalga, terutama dalam produksi biomassa untuk bahan bakar terbarukan. Selain meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya, penggunaan eco enzim juga berkontribusi dalam pengelolaan sampah organik, sehingga memberikan manfaat lingkungan yang lebih luas.
Dengan penelitian ini, Margareta Rosemary menegaskan peran mahasiswa MeTSi dalam melahirkan inovasi berbasis keberlanjutan yang relevan bagi kebutuhan energi masa depan Indonesia.
ditulis oleh Arham & Humas MeTSi