Ketahanan energi global menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring meningkatnya kebutuhan energi, fluktuasi pasokan, dinamika geopolitik, serta perubahan struktur konsumsi energi dunia. Dalam sektor gas alam, stabilitas rantai pasok menjadi faktor strategis karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan distribusi energi bagi industri, transportasi, dan kebutuhan domestik. Kondisi ini mendorong perlunya sistem pengelolaan energi yang mampu mengintegrasikan aspek pasokan, infrastruktur, distribusi, dan kebijakan energi secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, sistem Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG) memiliki peran penting dalam mendukung distribusi gas nasional. Pengembangan kedua sistem ini memerlukan kesiapan pasokan hulu, kapasitas infrastruktur hilir, fleksibilitas distribusi, serta strategi cadangan energi untuk menjaga stabilitas pasokan dalam jangka panjang. Hubungan antarvariabel dalam sistem distribusi gas juga bersifat dinamis, sehingga memerlukan pendekatan analitis yang mampu memetakan interaksi sistem secara menyeluruh.
Berita
Kemandirian teknologi menjadi isu strategis global di tengah meningkatnya kompetisi industri, transformasi energi, dan penguatan rantai pasok nasional di berbagai negara. Penguasaan teknologi industri berperan penting dalam menentukan daya saing ekonomi, kapasitas manufaktur, serta ketahanan industri strategis. Dalam sektor energi dan petrokimia, pengembangan teknologi katalis menjadi perhatian utama karena katalis memegang peran penting dalam berbagai proses produksi industri modern. Dalam konteks tersebut, Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap produk dan teknologi katalis impor untuk memenuhi kebutuhan industri energi, petrokimia, dan sektor strategis lainnya. Kondisi ini berdampak pada tingginya biaya pengadaan, keterbatasan penguasaan teknologi domestik, serta lemahnya ketahanan rantai pasok nasional. Pengembangan industri katalis dalam negeri menjadi langkah penting untuk memperkuat kemampuan nasional dalam produksi teknologi strategis sekaligus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Pengembangan hidrogen hijau menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi global seiring meningkatnya kebutuhan terhadap sistem energi rendah karbon. Berbagai negara mulai mengembangkan teknologi hidrogen untuk mendukung dekarbonisasi industri, penyimpanan energi, serta pengurangan emisi pada sektor transportasi dan pembangkitan listrik. Dalam perkembangan tersebut, integrasi energi terbarukan dengan teknologi produksi hidrogen menjadi perhatian penting untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi jangka panjang. Dalam konteks tersebut, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki potensi strategis karena mampu menghasilkan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan. Karakteristik ini menjadikan PLTP berbeda dibandingkan sumber energi terbarukan intermiten seperti surya dan angin. Namun, pada kondisi operasional tertentu terdapat excess energy yang belum termanfaatkan secara optimal oleh jaringan listrik. Kondisi ini membuka peluang pengembangan sistem energi terintegrasi yang mampu mengubah energi surplus menjadi produk energi bernilai tambah.
Transformasi sistem energi global mendorong pengembangan teknologi yang mampu mengintegrasikan ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat secara simultan. Dalam konteks tersebut, pendekatan agrivoltaic berkembang sebagai model inovatif yang mengombinasikan pembangkitan listrik tenaga surya dengan aktivitas pertanian dalam satu sistem terpadu. Pendekatan ini dinilai relevan untuk mendukung transisi energi sekaligus meningkatkan produktivitas lahan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya di tingkat lokal. Dalam kerangka pengembangan teknologi berbasis sistem tersebut, dosen Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., memimpin kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi Agrivoltaic Smart-Farming di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman. Program ini merupakan bagian dari skema Equity Community Development Berbasis Riset Aplikatif dan Pemberdayaan Masyarakat dengan Kolaborator Internasional Tahun Anggaran 2026, yang didanai Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM.
Perubahan lanskap pekerjaan global berlangsung semakin cepat seiring perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan transformasi industri berbasis inovasi. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa banyak jenis pekerjaan mengalami perubahan kompetensi secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menuntut lulusan perguruan tinggi untuk memiliki kesiapan karier yang adaptif, kemampuan belajar berkelanjutan, serta strategi pengembangan diri yang terarah sejak awal memasuki dunia profesional. Dalam konteks tersebut, kebutuhan terhadap ruang diskusi mengenai arah karier menjadi semakin relevan bagi lulusan perguruan tinggi yang sedang menghadapi fase transisi dari dunia akademik menuju dunia profesional, studi lanjut, maupun kewirausahaan. Menjawab kebutuhan tersebut, Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Ngopi (ngobrol pagi) Online bertema “Lulus Sarjana, Mau ke Mana?” pada Jumat (15/5). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh sekitar 300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan terbuka untuk peserta umum.
Ketahanan rantai pasok mineral strategis menjadi isu global yang semakin penting seiring percepatan transisi energi dan perkembangan industri teknologi maju. Kebutuhan terhadap Rare Earth Elements (REE) meningkat tajam karena material ini digunakan dalam berbagai teknologi strategis, seperti baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, turbin angin, hingga perangkat elektronik berteknologi tinggi. Persaingan penguasaan rantai pasok REE juga berkembang menjadi bagian dari dinamika ekonomi dan geopolitik global. Dalam konteks tersebut, hilirisasi REE menjadi agenda strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah industri sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pengembangan roadmap hilirisasi diperlukan untuk memastikan pengelolaan sumber daya mineral dilakukan secara terintegrasi, mulai dari rantai pasok, penguatan industri, hingga stabilitas ekonomi jangka panjang.
Transformasi sistem energi global menggeser perhatian pada rantai pasok energi, termasuk sektor transportasi. Distribusi batubara melalui jalur laut tetap menjadi komponen utama dalam sistem energi, terutama pada negara dengan konsumsi energi tinggi. Aktivitas ini menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar serta membutuhkan konsumsi bahan bakar yang signifikan. Tekanan terhadap penurunan emisi dan peningkatan efisiensi mendorong pengembangan pendekatan transportasi energi yang mampu mengintegrasikan aspek operasional, ekonomi, dan lingkungan dalam satu kerangka analitis.
Transformasi industri pengolahan menjadi faktor kunci dalam penguatan struktur ekonomi nasional. Perubahan dinamika global, tekanan kompetisi, serta kebutuhan peningkatan nilai tambah mendorong perlunya pemetaan yang akurat terhadap perkembangan subsektor industri. Struktur industri yang tidak merata memengaruhi kontribusi ekonomi dan daya saing nasional, sehingga diperlukan pendekatan analitis yang mampu membaca pola perubahan secara sistematis dan terukur. Dalam kerangka tersebut, analisis berbasis sistem digunakan untuk memahami arah perkembangan industri secara komprehensif. Integrasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif memungkinkan identifikasi pola pertumbuhan, stabilitas perubahan, serta pengaruh faktor eksternal terhadap kinerja industri. Pendekatan ini memberikan dasar yang kuat dalam perumusan strategi penguatan industri yang adaptif terhadap dinamika ekonomi.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai insiden kegagalan infrastruktur energi di berbagai negara menunjukkan bahwa integritas sistem pipa minyak dan gas menjadi isu global yang semakin krusial. Kebocoran pipa tidak hanya berdampak pada gangguan pasokan energi, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan dan kerusakan lingkungan yang signifikan. Seiring meningkatnya kompleksitas sistem energi dan tuntutan terhadap keandalan operasional, kemampuan untuk mendeteksi anomali secara akurat dan dini menjadi faktor kunci dalam pengelolaan aset energi.
Tika Rianna Iswardhani, mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) raih predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Teknik untuk kategori Program Magister pada wisuda pascasarjana UGM periode III T.A. 2025/2026. Tika berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.99 dengan masa studi 2 tahun 0 bulan 26 hari, serta mengukir prestasi akademik dengan mempublikasikan 1 jurnal nasional Sinta 2 dan 1 prosiding internasional.
Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen dan dedikasi Tika dalam menjalani studi di MeTSi FT UGM. Sebagai mahasiswa dari konsentrasi energi baru dan terbarukan, Tika melakukan penelitian tentang “Analisis Dampak Kebijakan Pengelolaan Limbah Panel Surya terhadap Pertumbuhan PLTS di Indonesia dengan Pendekatan Sistem Dinamis”. Dengan penelitian ini, Tika berharap dapat memberikan kontribusi lebih dalam untuk dunia profesional dan riset, terutama dalam pengelolaan energi terbarukan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.