Kajian Tekno-Ekonomi Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off-Grid di Daerah Terpencil. Studi Kasus: Desa Kapadiri, Desa Supnin, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya
Mahasiswa Peneliti:
Andika Putra Gulfanny
Dosen Pembimbing:
Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D.
Dr. Nugroho Dewayanto, S.T., M.Eng.
Ketimpangan akses energi listrik masih menjadi tantangan besar di wilayah-wilayah terpencil Indonesia, termasuk di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Desa Kapadiri, salah satu desa di Distrik Supnin, hingga saat ini belum terhubung dengan jaringan listrik nasional dan masyarakat masih bergantung pada genset berbahan bakar fosil yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian kelayakan teknis dan ekonomis atas pembangunan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid sebagai solusi alternatif penyediaan energi yang berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis tekno-ekonomi. Data potensi energi surya diperoleh melalui Global Solar Atlas, sedangkan estimasi beban listrik didasarkan pada survei lapangan, standar konsumsi energi rumah tangga di desa, serta proyeksi pertumbuhan kebutuhan energi di masa depan. Analisis teknis meliputi perhitungan kapasitas panel surya, baterai, dan inverter, sedangkan aspek ekonomi dinilai melalui indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), Payback Period (PP), dan Levelized Cost of Energy (LCOE).
Hasil studi menunjukkan bahwa Desa Kapadiri memiliki potensi radiasi matahari rata-rata sebesar 4,647 kWh/m²/hari. Dengan mengusulkan sistem PLTS off-grid sebesar 25 kWp, dapat dipenuhi kebutuhan energi sekitar 78 kepala keluarga. Sistem dirancang dengan konfigurasi panel monocrystalline, baterai lithium-ion, dan inverter efisiensi tinggi. Dari sisi ekonomi, proyek ini menunjukkan kelayakan dengan NPV bernilai positif, IRR sebesar 11,6%, BCR sebesar 1,42, dan waktu pengembalian investasi (payback period) dalam rentang 7 hingga 8 tahun. Meskipun LCOE proyek sedikit lebih tinggi dibanding pembangkit konvensional di wilayah urban, nilai tersebut masih kompetitif mengingat manfaat sosial dan pengurangan emisi yang signifikan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa PLTS off-grid merupakan solusi yang tepat dan berkelanjutan untuk desa terpencil seperti Kapadiri. Selain mendukung pencapaian target elektrifikasi nasional dan Net Zero Emission 2060, sistem ini juga dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal dan pariwisata berbasis ekowisata. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi praktis bagi pemerintah, PLN, dan pihak swasta dalam merancang proyek-proyek elektrifikasi desa lainnya yang berbasis potensi lokal.
Kata kunci: PLTS off-grid, kajian tekno-ekonomi, elektrifikasi desa, energi terbarukan, Raja Ampat, Papua