Keselamatan kerja di sektor industri dan pertambangan menjadi perhatian global seiring meningkatnya kompleksitas sistem operasi dan penggunaan teknologi pada peralatan industri. International Labour Organization (ILO) mencatat bahwa kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja masih menyebabkan jutaan kasus setiap tahunnya dan menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan keselamatan kerja berkembang dari sekadar pengendalian teknis menuju pendekatan yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan interaksi antara manusia, teknologi, dan organisasi. Dalam konteks operasi alat berat, berbagai studi menunjukkan bahwa kecelakaan kerja tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi teknis peralatan, tetapi juga oleh faktor manusia dan lingkungan kerja. Kelelahan, beban kerja yang tinggi, tekanan psikologis, komunikasi yang kurang efektif, serta rendahnya budaya keselamatan dapat meningkatkan risiko kesalahan operasional dan kegagalan sistem. Oleh karena itu, peningkatan keselamatan dan kinerja operasi memerlukan pendekatan yang mampu mengintegrasikan faktor teknis dan faktor manusia secara bersamaan.
Dekarbonisasi sektor maritim menjadi salah satu agenda penting dalam transisi energi global. International Maritime Organization (IMO) mendorong berbagai negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor pelayaran dan aktivitas kepelabuhanan melalui peningkatan efisiensi energi, penggunaan energi bersih, serta pengembangan infrastruktur pelabuhan yang berkelanjutan. Dalam perkembangan tersebut, konsep green port semakin mendapat perhatian karena dipandang mampu mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab. Dalam konteks tersebut, pelabuhan tidak lagi dipandang semata sebagai simpul logistik, tetapi juga sebagai pusat aktivitas industri yang memiliki pengaruh besar terhadap konsumsi energi dan emisi karbon. Aktivitas bongkar muat, operasional peralatan pelabuhan, lalu lintas kapal, dan kegiatan industri di sekitar kawasan pelabuhan berkontribusi terhadap penggunaan energi yang tinggi dan peningkatan tekanan lingkungan. Kondisi ini mendorong berbagai pelabuhan di dunia untuk menerapkan konsep green port sebagai bagian dari strategi pembangunan industri yang berkelanjutan.
Transisi menuju sistem energi rendah karbon mendorong berbagai negara untuk mempercepat pengembangan ekonomi hidrogen. Hidrogen dipandang sebagai salah satu energy carrier yang berpotensi mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan pembangkitan listrik. Namun, pengembangan rantai pasok hidrogen masih menghadapi tantangan besar, terutama pada aspek infrastruktur transportasi yang membutuhkan investasi tinggi dan waktu implementasi yang panjang. Dalam konteks tersebut, repurposing infrastruktur minyak dan gas eksisting mulai berkembang sebagai salah satu strategi yang menjanjikan. Berbagai negara mulai mengkaji penggunaan jaringan pipa migas yang telah beroperasi untuk mendukung distribusi hidrogen karena dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan lebih cepat diimplementasikan dibandingkan pembangunan jaringan pipa baru. Pendekatan ini juga membuka peluang transformasi infrastruktur energi konvensional menuju sistem energi rendah karbon yang lebih berkelanjutan.
Bagaimana rasanya membawa hasil penelitian hingga meraih penghargaan di tingkat internasional? Pada episode kali ini, kami berbincang bersama mahasiswa Magister Teknik Sistem Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (MeTSi FT-UGM) yang berhasil meraih First Place Graduate Paper Competition dalam 7th Asia Pacific International Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) 2026, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada 25–27 Maret 2026. Melalui podcast ini, para narasumber berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan penelitian, persiapan menghadapi kompetisi internasional, tantangan yang dihadapi, serta pesan inspiratif bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan potensi akademiknya hingga ke tingkat global. Jangan lupa Like, Comment, dan Subscribe untuk konten akademik dan inspiratif lainnya dari MeTSi FT UGM.
Ketahanan pangan dan transisi energi menjadi dua agenda global yang semakin saling terkait dalam beberapa tahun terakhir. Food and Agriculture Organization (FAO) menekankan pentingnya pengembangan sistem pangan yang lebih berkelanjutan, termasuk melalui penerapan teknologi energi bersih pada sektor perikanan dan pertanian. Di saat yang sama, pemanfaatan energi surya berkembang pesat sebagai solusi untuk menyediakan energi yang terjangkau, rendah emisi, dan dapat menjangkau berbagai aktivitas produktif di tingkat lokal. Dalam konteks budidaya perikanan, kebutuhan energi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan produktivitas dan efisiensi usaha. Aerator berperan dalam menjaga kadar oksigen terlarut di dalam kolam sehingga kualitas air tetap terjaga dan pertumbuhan ikan berlangsung secara optimal. Namun, penggunaan aerator berbasis listrik konvensional dapat meningkatkan biaya operasional, terutama pada kolam budidaya yang memerlukan aerasi dalam waktu panjang dan beroperasi secara terus-menerus.
Peningkatan efisiensi energi menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi global, terutama pada sektor pembangkitan energi terbarukan. Berbagai negara mulai mengembangkan pendekatan waste heat recovery untuk memanfaatkan panas sisa dari proses industri dan pembangkitan listrik guna meningkatkan efisiensi sistem energi secara menyeluruh. Pendekatan ini berkembang karena sebagian energi termal pada sistem pembangkitan masih belum termanfaatkan secara optimal dan terbuang ke lingkungan. Dalam konteks pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), fluida brine yang diinjeksikan kembali ke reservoir masih menyimpan potensi panas sisa yang cukup besar. Pemanfaatan panas residual tersebut membuka peluang pengembangan sistem energi terintegrasi yang mampu menghasilkan nilai tambah di luar fungsi utama pembangkitan listrik. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah untuk sistem pengeringan termal pada berbagai komoditas yang memerlukan proses pengeringan terkontrol dan berkelanjutan.
Ketahanan rantai pasok menjadi salah satu isu strategis yang mendapat perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir. Disrupsi pascapandemi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, serta meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan mendorong berbagai organisasi memperkuat sistem manajemen risiko pada seluruh proses rantai pasok. Di sektor konstruksi, tantangan tersebut semakin kompleks karena setiap tahapan proyek melibatkan banyak pemangku kepentingan, ketergantungan terhadap pemasok, serta penerapan prinsip green supply chain yang menuntut keseimbangan antara kinerja operasional dan keberlanjutan lingkungan. Kebutuhan akan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi menjadi dasar penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Juara Agung Ananta, dari konsentrasi Teknik Sistem Industri. Dalam seminar hasil tesis yang diselenggarakan pada Selasa (2/6) di Perpustakaan MeTSi Lantai 2, Juara mempresentasikan penelitian berjudul “Perancangan Risk Based Performance Management melalui Green Supply Chain Operation Reference dengan Metode House of Risk dan DEMATEL.”
Transformasi sistem ketenagalistrikan global mendorong perusahaan utilitas di berbagai negara untuk memperkuat keandalan infrastruktur transmisi listrik. Peningkatan kebutuhan energi, integrasi energi baru dan terbarukan, serta penuaan aset jaringan (aging infrastructure) meningkatkan risiko gangguan pada sistem transmisi. Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan aset berbasis data berkembang menjadi pendekatan strategis untuk meningkatkan akurasi pemeliharaan, memperpanjang umur infrastruktur, dan mendeteksi potensi kegagalan sistem secara lebih dini. Dalam konteks tersebut, sistem Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas distribusi energi listrik nasional. Infrastruktur transmisi menghadapi tantangan operasional yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tingkat korosivitas atmosfer, karakter geografis wilayah, serta beban operasi jangka panjang. Faktor-faktor tersebut memengaruhi penurunan kondisi aset secara bertahap dan meningkatkan kebutuhan terhadap sistem pemantauan yang mampu membaca degradasi aset secara lebih presisi dan terukur.
Ketahanan energi global menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring meningkatnya kebutuhan energi, fluktuasi pasokan, dinamika geopolitik, serta perubahan struktur konsumsi energi dunia. Dalam sektor gas alam, stabilitas rantai pasok menjadi faktor strategis karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan distribusi energi bagi industri, transportasi, dan kebutuhan domestik. Kondisi ini mendorong perlunya sistem pengelolaan energi yang mampu mengintegrasikan aspek pasokan, infrastruktur, distribusi, dan kebijakan energi secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, sistem Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG) memiliki peran penting dalam mendukung distribusi gas nasional. Pengembangan kedua sistem ini memerlukan kesiapan pasokan hulu, kapasitas infrastruktur hilir, fleksibilitas distribusi, serta strategi cadangan energi untuk menjaga stabilitas pasokan dalam jangka panjang. Hubungan antarvariabel dalam sistem distribusi gas juga bersifat dinamis, sehingga memerlukan pendekatan analitis yang mampu memetakan interaksi sistem secara menyeluruh.
Kemandirian teknologi menjadi isu strategis global di tengah meningkatnya kompetisi industri, transformasi energi, dan penguatan rantai pasok nasional di berbagai negara. Penguasaan teknologi industri berperan penting dalam menentukan daya saing ekonomi, kapasitas manufaktur, serta ketahanan industri strategis. Dalam sektor energi dan petrokimia, pengembangan teknologi katalis menjadi perhatian utama karena katalis memegang peran penting dalam berbagai proses produksi industri modern. Dalam konteks tersebut, Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap produk dan teknologi katalis impor untuk memenuhi kebutuhan industri energi, petrokimia, dan sektor strategis lainnya. Kondisi ini berdampak pada tingginya biaya pengadaan, keterbatasan penguasaan teknologi domestik, serta lemahnya ketahanan rantai pasok nasional. Pengembangan industri katalis dalam negeri menjadi langkah penting untuk memperkuat kemampuan nasional dalam produksi teknologi strategis sekaligus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).