Kota-kota di dunia saat ini sudah menginjak usia hampir ratusan tahun. Bukanlah perkara mudah untuk mempertahankan kota agar tetap dikenal dan tetap ditinggali oleh penduduknya. Oleh karena itu, kota haruslah berusaha untuk ‘hidup’ dan ‘menghidupi’ penduduknya. Kota harus mampu menjadi tempat nyaman, baik untuk ditinggali, dikunjungi, dan sebagai tempat untuk bekerja dan berusaha.
Hal ini menjadi kesempatan bagi arsitek, perencana kota, terlebih pemerintah kota untuk selalu memperbaiki kotanya, membuat inovasi dan terobosan untuk menciptakan “better space, better living”. Konsep arsitektur hijau memberi ruang pada inovasi kota untuk menciptakan kawasan yang baik yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan eksistensi untuk di-“orang”-kan. Ketersediaan ruang yang baik akan membahagiakan manusia yang tinggal, yang berujung pada kehidupan kota yang sejahtera, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
