Analisis Penilaian Daur Hidup Kabel Tanah 150 kV
Mahasiswa Peneliti:
Liza Amanata
Dosen Pembimbing:
Dr. Ir. Suhanan, DEA
Dr. Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng
Dalam rangka mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca nasional sebesar 29 % pada tahun 2030 dan transisi menuju net-zero emission, pemilihan kabel dalam pengembangan infrastruktur kelistrikan berkelanjutan di Indonesia khususnya pada rencana pembangunan Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 150 kV menjadi salah satu upaya dengan memprioritaskan teknologi pembangkitan dan jaringan yang ramah lingkungan untuk mendukung target tersebut. Serta dalam rangka memasok kebutuhan konsumen pada daerah industrial dengan kapasitas 1 968 MVA pada tahun 2026. Dilakukan penelitian penilaian daur hidup (Life Cycle Assessment) kabel tanah 150 kV dengan contoh kasus pada rencana penambahan daya pada Kawasan Industrial di Karawang. Analisis dilakukan secara komprehensif dengan menilai, melalui metodologi Life Cycle Assessment (ISO 14040) berbasis perangkat lunak OpenLCA dan database Ecoinvent dampak lingkungan tiga alternatif dari tiga jenis kabel, yaitu kabel konduktor tembaga dengan lead sheath (Cu LS), kabel tembaga dengan corrugated aluminium sheath (Cu CAS), serta kabel aluminium dengan corrugated aluminium sheath (Al CAS) dengan system boundaries cradle-to-grave. Functional unit yang digunakan adalah setiap 1 kWh listrik per kilometer sirkuit selama 40 tahun. Penelitian mencakup seluruh tahapan siklus hidup mulai dari produksi bahan baku, manufaktur, transportasi, konstruksi, operasional, hingga end-of-life dengan skema (buried cable). Hasilnya menunjukkan fase operasi mendominasi 70-96 % jejak lingkungan semua kategori, terutama karena losses. kabel Cu-LS menghasilkan dampak terendah pada katagori dampak climate change (5,57 kg CO₂-Eq, diikuti Cu-CAS, sedangkan Al-CAS tertinggi akibat intensitas material dan resistansi lebih besar. Fase manufaktur signifikan untuk human toxicity dan metal depletion, sedangkan transportasi menambah 20-25 % fossil depletion. Sehingga penggunaan kabel tembaga dengan lead sheath sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk jaringan transmisi di kawasan industri, serta perlunya optimalisasi proses produksi dan pengelolaan limbah untuk menurunkan jejak ekologis secara keseluruhan. Penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengambilan keputusan pemilihan kabel dalam pengembangan infrastruktur kelistrikan berkelanjutan di Indonesia.