Keandalan operasional turbin gas merupakan elemen krusial dalam sistem konversi energi, khususnya untuk mengoptimalkan keandalan dan penjadwalan pemeliharaan di sektor industri minyak dan gas (migas). Turbin gas beroperasi di bawah kondisi termodinamika yang sangat kompleks, di mana fluktuasi beban kerja dan perubahan lingkungan memengaruhi kinerjanya secara signifikan. Sayangnya, pendekatan pemodelan konvensional berbasis fisika maupun metode statistik sering kali kesulitan untuk beradaptasi secara real-time dan gagal menangkap pola hubungan nonlinear antar-variabel sensor saat mesin beroperasi.
SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur
Konversi limbah menjadi energi listrik (Waste-to-Energy) melalui pemanfaatan sistem Organic Rankine Cycle (ORC) merupakan salah satu solusi inovatif untuk menghasilkan listrik dari panas sisa pembakaran sampah. Dalam pengoperasian pembangkit listrik bersistem ORC, heat exchanger (penukar panas) menjadi salah satu peralatan paling krusial yang berfungsi untuk memanaskan, menguapkan, dan mendinginkan fluida kerja. Penentuan dimensi fisik dari peralatan ini memainkan peran yang sangat penting, karena ukuran dimensi secara langsung akan menentukan total biaya pengadaan peralatan (equipment cost) dalam proyek pembangkit tersebut.
Filmon Seko Kaji Algoritma Hibrida untuk Optimasi Pengisian Cepat Baterai Lithium-Ion Pendukung PLTS
Indonesia tengah menjalankan transformasi energi yang ambisius dengan target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 Gigawatt (GW) menuju Net Zero Emission 2060. Dalam mendukung interkoneksi PLTS skala kecil dan menengah, ketersediaan sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS) berbasis baterai lithium-ion menjadi fondasi teknis yang krusial. Namun, perluasan penggunaan baterai ini menghadirkan tantangan teknis fundamental, yakni bagaimana mengisi daya baterai secepat mungkin tanpa mengorbankan kesehatannya dalam jangka panjang. Tantangan ini semakin kompleks mengingat baterai akan beroperasi pada kondisi suhu lingkungan yang sangat beragam di Indonesia, mulai dari wilayah pegunungan yang dingin hingga kawasan pesisir yang panas.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memegang peranan yang sangat strategis dalam upaya transisi menuju energi terbarukan di Indonesia. Namun, di balik potensi besarnya, keandalan operasional infrastruktur ini sering kali menghadapi tantangan signifikan akibat kegagalan komponen-komponen kritis seperti modul photovoltaic (PV), inverter, hingga transformator. Selama ini, Failure Modes, Effects, and Criticality Analysis (FMECA) telah menjadi metode yang mapan dan diandalkan di industri untuk mengevaluasi serta memprioritaskan penanganan mode kegagalan sistem. Sayangnya, pendekatan FMECA konvensional masih memiliki sejumlah keterbatasan mendasar, antara lain tingginya subjektivitas penilaian pakar, asumsi hubungan linier antara parameter Severity (S), Occurrence (O), dan Detection (D), serta kerap munculnya duplikasi nilai Risk Priority Number (RPN) pada kombinasi parameter yang sebenarnya berbeda kondisinya.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bekerja secara optimal pada kondisi suhu yang sejuk. Namun, di tengah teriknya cuaca tropis, suhu modul PLTS atap sering kali melonjak jauh melampaui titik ideal operasi. Sebagai gambaran, pada salah satu instalasi PLTS atap sebuah industri makanan dan minuman berkapasitas 3,8 MWp, suhu operasi modul di lapangan tercatat dapat menyentuh angka 70°C. Kondisi ini menjadi tantangan serius, mengingat setiap kenaikan suhu 1°C di atas standar pengujian akan memangkas daya keluaran modul sekitar 0,29%. Panas berlebih yang terakumulasi ini secara perlahan menggerus efisiensi pembangkit tanpa terlihat langsung oleh mata.
Transisi menuju penggunaan energi terbarukan sekaligus upaya penurunan emisi gas rumah kaca kini menjadi salah satu tantangan terbesar di tingkat global, terutama bagi sektor-sektor industri yang padat energi. Di tengah dinamika ekonomi dan lingkungan, sektor industri dituntut untuk mampu menjaga stabilitas pasokan energi yang hemat biaya sembari menekan jejak karbon. Pemanfaatan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap atau rooftop solar photovoltaic (PV) muncul sebagai solusi strategis. Pendekatan energi bersih ini dipandang mampu mengintegrasikan target pertumbuhan ekonomi industri dengan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil.
Ketersediaan pupuk menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung produktivitas pertanian. Ketidaksesuaian antara permintaan dan pasokan dapat memengaruhi kelancaran distribusi, ketersediaan stok, hingga kebutuhan kapasitas gudang. Kondisi tersebut mendorong perlunya metode prediksi yang mampu memberikan gambaran permintaan secara lebih akurat pada tingkat wilayah.
Kajian tersebut dibahas dalam penelitian berjudul Demand Forecasting of NPK Phonska Fertilizer in Central Java Using SARIMA Method yang dilakukan oleh Fajar Primazona Amdarso, Wangi Pandan Sari, dan Nugroho Dewayanto. Artikel ini tersedia secara daring sejak 24 Mei 2026 dan diterbitkan dalam Proceedings of the 8th Mechanical and Industrial Engineering Symposium (MIE 2025), Atlantis Highlights in Engineering, Vol. 42 (2026).
Keandalan energi menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas masyarakat, terutama pada wilayah yang mengandalkan pembangkit energi skala lokal. Pada sistem Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), keberlanjutan operasional dipengaruhi oleh kondisi teknis sekaligus kemampuan masyarakat dalam mengelola, merawat, dan memulihkan sistem ketika terjadi gangguan.
Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian berjudul “Community-Based Energy Resilience Assessment of Micro-Hydro Power Plant: A Socio-Technical Approach” yang dilakukan oleh Sri Wahyu Ningsih, Muhammad Mufti Azis, dan Agus Maryono. Penelitian ini mengkaji resiliensi energi pada PLTMH Kedunggrong di Yogyakarta dengan menggunakan pendekatan sosio-teknis.
Akses listrik yang merata masih menjadi tantangan bagi wilayah terpencil yang berada jauh dari jaringan listrik utama. Jarak dari jaringan PLN dapat meningkatkan kebutuhan investasi sekaligus menghadirkan kendala teknis dan ekonomi dalam penyediaan listrik. Kondisi tersebut mendorong pengembangan sistem mikrogrid berbasis energi terbarukan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung elektrifikasi daerah terpencil.
Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian berjudul “Design and Feasibility Evaluation of Hybrid Solar PV-Genset Microgrids for Remote Area Electrification” yang dilakukan oleh Krisna Adhi Suwarno Putra, Roni Irnawan, dan Arief Budiman. Penelitian ini mengkaji perancangan dan evaluasi kelayakan mikrogrid hibrida berbasis panel surya (photovoltaic/PV), baterai, konverter, dan genset untuk mendukung elektrifikasi wilayah terpencil di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Ketersediaan listrik yang andal menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung aktivitas masyarakat di wilayah perdesaan. Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk memperkuat pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik eksternal.
Upaya tersebut menjadi fokus penelitian Saiful M., mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) FT UGM dari konsentrasi Teknik Sistem Energi Baru Terbarukan (EBT). Gagasan penelitian berjudul Analisis Tekno-Ekonomi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTMH–PLTS) untuk Mendukung Desa Mandiri Energi Berbasis EBT di Padukuhan Kedungrong, Yogyakarta ini dipresentasikan dalam Seminar Proposal Tesis pada Rabu, 29 Juli 2026 di Ruang 202 Gedung MeTSi Lantai 2.