Evaluasi Dampak Lingkungan Pada PLTS Terapung Cirata Dengan Pendekatan Life Cycle Assessment (LCA)
Mahasiswa Peneliti:
Ariningtiyas Widya Kartini
Dosen Pembimbing:
Dr. Eng. Mohammad Kholid Ridwan, S.T., M.Sc., IPU.
Ir. Ahmad Tawfiequrrahman Yuliansyah, S.T., M.T., D.Eng. IPM.
Perubahan iklim telah menjadi perhatian global yang mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, untuk menetapkan target net zero emission (NZE). Dalam mendukung transisi menuju energi bersih, PT PLN (Persero) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata berkapasitas 192 MWp, yang merupakan PLTS terapung terbesar di kawasan Asia Tenggara. Meskipun secara umum dianggap sebagai teknologi ramah lingkungan, implementasi PLTS terapung tetap memiliki potensi dampak lingkungan yang perlu dikaji secara komprehensif melalui pendekatan siklus hidup.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis dampak lingkungan PLTS Terapung Cirata menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) dengan cakupan cradle to grave, (2) membandingkan dua skenario akhir masa pakai (end-of-life), yaitu landfill dan kombinasi landfill–recycle, serta (3) merumuskan strategi mitigasi dampak lingkungan berdasarkan hasil kajian LCA. Penilaian dilakukan menggunakan perangkat lunak openLCA, database ecoinvent 3.1, dan metode LCIA ReCiPe Midpoint (H), dengan unit fungsional sebesar 1 kWh listrik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan produksi panel surya merupakan kontributor utama terhadap total dampak lingkungan, diikuti oleh tahap akhir masa pakai, operasi pembangkit, dan transportasi. Pada kategori climate change, emisi mencapai 0,05076 kg CO₂-eq/kWh pada skenario landfill, dan menurun menjadi 0,04636 kg CO₂-eq/kWh pada skenario landfill & recycle. Dampak human toxicity juga mengalami penurunan dari 0,05438 menjadi 0,03821 kg 1,4-DCB-eq. Analisis sensitivitas terhadap variasi daur ulang kaca (50%, 85%, dan 100%) menunjukkan perubahan yang tidak signifikan, mengindikasikan bahwa kaca bukan kontributor utama terhadap dampak lingkungan sistem. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produksi panel surya dan pengelolaan akhir masa pakai merupakan titik kritis (hotspot) dampak lingkungan utama. Strategi mitigasi yang direkomendasikan mencakup peningkatan efisiensi material, optimalisasi proses produksi modul surya, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam manajemen akhir masa pakai. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan kajian LCA pada sistem PLTS terapung di Indonesia dengan pendekatan siklus hidup menyeluruh dan evaluasi skenario daur ulang yang komprehensif.
Kata kunci: PLTS Terapung, Life Cycle Assessment, Dampak Lingkungan, End of Life Skenario, Hotspot Analysis