Pengembangan Model Evaluasi Keberlanjutan Produk Menggunakan Sistem Inferensi Fuzzy pada Sektor Industri Makanan dan Minuman
Mahasiswa Peneliti:
Mohd. Ridho Al Fariz
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc.
Ir. Andi Sudiarso, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
Industri makanan dan minuman merupakan sektor yang menghadapi tekanan dalam mempertahankan keberlanjutan produk akibat persaingan pasar ketat serta kompleksitas pengelolaan produk. Perusahaan membutuhkan model evaluasi yang mampu menangani kompleksitas dan pengambilan keputusan secara sistematis. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan model evaluasi keberlanjutan produk menggunakan sistem inferensi fuzzy yang mampu mengolah dan merepresentasikan kompleksitas pengelolaan produk secara lebih adaptif.
Model menggunakan fungsi keanggotaan Gaussian, metode inferensi Mamdani dan defuzzifikasi centroid. Penentuan variabel dilakukan menggunakan metode Delphi, melibatkan empat ahli dalam bidang industri makanan dan minuman. Hasilnya, terpilih empat variabel utama yang mempengaruhi keberlanjutan produk, yaitu kepuasan pelanggan, produk cacat, biaya produksi, dan tingkat inovasi produk, menghasilkan 81 aturan fuzzy. Model diimplementasikan menggunakan bahasa pemrograman Python. Data sampel diuji menggunakan analisis korelasi Pearson. Uji reliabilitas dan kekokohan model dilakukan terhadap 17 data menggunakan paired t-test signifikansi 0,05 dan uji kekokohan RMSE variasi nilai sebesar 10%.
Sebanyak 83 data sampel dikumpulkan dari berbagai entitas bisnis makanan dan minuman. Hasil validasi data sampel menunjukan korelasi produk cacat dan kepuasan pelanggan –0,450, produk cacat dan biaya produksi –0,225, inovasi dan kepuasan pelanggan 0,457, inovasi dan produk cacat –0,165, inovasi dan biaya produksi 0,231, serta biaya produksi dan kepuasan pelanggan 0,383, menunjukkan arah korelasi yang sesuai logika empiris. Hasil uji akurasi model menunjukkan nilai p sebesar 0,182 untuk fuzzifikasi kepuasan pelanggan dan p sebesar 0,255 untuk defuzzifikasi, serta error tidak ditemukan pada proses fuzzifikasi dan inferensi. Uji kekokohan model menghasilkan nilai RMSE kepuasan pelanggan 0,137, produk cacat 0,014, biaya produksi 0,001, dan inovasi produk 0,020, seluruhnya berada di bawah ambang batas 0,200. Berdasarkan hasil tersebut dinyatakan bahwa model dapat digunakan untuk mengevaluasi keberlanjutan produk di industri makanan dan minuman.
Kata Kunci: Keberlanjutan produk, sistem inferensi fuzzy, evaluasi produk, industri makanan dan minuma