Aktivitas riset di Program Magister Teknik Sistem (MeTSi), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, terus menghasilkan kajian yang menempatkan persoalan energi dan sumber daya air dalam kerangka analisis sistem. Salah satu penelitian mahasiswa MeTSi angkatan semester genap 2023, menyoroti pemanfaatan energi air bawah tanah di kawasan karst di Gunungkidul melalui kajian tekno-ekonomi sistem Pump-as-Turbine (PaT) pada jaringan sungai bawah tanah Bribin.
Penelitan yang dilakukan oleh Anggi Rahmawati ini berangkat dari kondisi nyata bahwa di pegunungan karst daerah Gunungkidul memiliki cadangan air bawah tanah melimpah, namun sulit diakses secara konvensional. Sistem PaT Bribin II sebelumnya dirancang untuk menjawab persoalan tersebut dengan memanfaatkan energi aliran sungai bawah tanah tanpa ketergantungan listrik eksternal. Meski sempat melayani puluhan ribu penduduk, kerusakan parah akibat Badai Cempaka–Dahlia pada 2017 menyebabkan sistem ini berhenti beroperasi dan memunculkan kembali ketergantungan listrik dari PLN.
Alih-alih menerima kondisi tersebut sebagai keniscayaan, riset ini mengkaji ulang potensi revitalisasi PaT Bribin II melalui pendekatan studi tekno-ekonomi. Analisis difokuskan pada penilaian kelayakan investasi menggunakan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), Benefit–Cost Ratio (BCR), Break-Even Point (BEP), dan Payback Period (PBP), sehingga memberikan dasar kuantitatif bagi pengambilan keputusan.
Penelitian Anggi ini dibimbing oleh Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono dan Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng. Secara substantif, kajian ini menunjukkan bahwa energi air bawah tanah bukan sekadar solusi darurat penyediaan air, melainkan memiliki posisi strategis sebagai bagian dari sistem energi terbarukan dan penyimpanan energi yang berkelanjutan di wilayah dengan keterbatasan air permukaan.
Sebagai bagian dari kontribusi akademik MeTSi FT-UGM, penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi berbasis sistem dan ekonomi sebelum sebuah teknologi dinyatakan usang atau tidak layak. Pendekatan semacam ini menjadi krusial agar kebijakan energi dan air tidak hanya responsif terhadap krisis, tetapi juga berlandaskan analisis jangka panjang yang rasional.
Ditulis oleh Arham
Direview oleh Humas MeTSi