Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bekerja secara optimal pada kondisi suhu yang sejuk. Namun, di tengah teriknya cuaca tropis, suhu modul PLTS atap sering kali melonjak jauh melampaui titik ideal operasi. Sebagai gambaran, pada salah satu instalasi PLTS atap sebuah industri makanan dan minuman berkapasitas 3,8 MWp, suhu operasi modul di lapangan tercatat dapat menyentuh angka 70°C. Kondisi ini menjadi tantangan serius, mengingat setiap kenaikan suhu 1°C di atas standar pengujian akan memangkas daya keluaran modul sekitar 0,29%. Panas berlebih yang terakumulasi ini secara perlahan menggerus efisiensi pembangkit tanpa terlihat langsung oleh mata.
SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau)
Transisi menuju penggunaan energi terbarukan sekaligus upaya penurunan emisi gas rumah kaca kini menjadi salah satu tantangan terbesar di tingkat global, terutama bagi sektor-sektor industri yang padat energi. Di tengah dinamika ekonomi dan lingkungan, sektor industri dituntut untuk mampu menjaga stabilitas pasokan energi yang hemat biaya sembari menekan jejak karbon. Pemanfaatan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap atau rooftop solar photovoltaic (PV) muncul sebagai solusi strategis. Pendekatan energi bersih ini dipandang mampu mengintegrasikan target pertumbuhan ekonomi industri dengan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil.
Keandalan sistem pembangkit listrik menjadi faktor penting dalam menjaga kontinuitas operasi industri minyak dan gas. Pada pembangkit berbasis turbin gas, perubahan karakteristik bahan bakar dapat memengaruhi daya keluaran sehingga diperlukan metode prediksi yang mampu mendukung pengambilan keputusan operasional secara cepat dan akurat. Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menjadi salah satu pendekatan yang semakin berkembang untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sistem energi di sektor industri.
Keandalan energi menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas masyarakat, terutama pada wilayah yang mengandalkan pembangkit energi skala lokal. Pada sistem Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), keberlanjutan operasional dipengaruhi oleh kondisi teknis sekaligus kemampuan masyarakat dalam mengelola, merawat, dan memulihkan sistem ketika terjadi gangguan.
Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian berjudul “Community-Based Energy Resilience Assessment of Micro-Hydro Power Plant: A Socio-Technical Approach” yang dilakukan oleh Sri Wahyu Ningsih, Muhammad Mufti Azis, dan Agus Maryono. Penelitian ini mengkaji resiliensi energi pada PLTMH Kedunggrong di Yogyakarta dengan menggunakan pendekatan sosio-teknis.
Akses listrik yang merata masih menjadi tantangan bagi wilayah terpencil yang berada jauh dari jaringan listrik utama. Jarak dari jaringan PLN dapat meningkatkan kebutuhan investasi sekaligus menghadirkan kendala teknis dan ekonomi dalam penyediaan listrik. Kondisi tersebut mendorong pengembangan sistem mikrogrid berbasis energi terbarukan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung elektrifikasi daerah terpencil.
Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian berjudul “Design and Feasibility Evaluation of Hybrid Solar PV-Genset Microgrids for Remote Area Electrification” yang dilakukan oleh Krisna Adhi Suwarno Putra, Roni Irnawan, dan Arief Budiman. Penelitian ini mengkaji perancangan dan evaluasi kelayakan mikrogrid hibrida berbasis panel surya (photovoltaic/PV), baterai, konverter, dan genset untuk mendukung elektrifikasi wilayah terpencil di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Ketersediaan air baku menjadi tantangan penting bagi wilayah karst seperti Kabupaten Gunungkidul. Pemanfaatan potensi energi terbarukan melalui teknologi Pump-As-Turbine (PAT) menjadi salah satu alternatif untuk mendukung sistem penyediaan air yang berkelanjutan sekaligus mengoptimalkan potensi energi lokal.
Kajian tersebut dilakukan oleh Anggi Rahmawati, Agus Maryono, dan Muhammad Sulaiman melalui penelitian berjudul “Feasibility Analysis of The Bribin Pump-As-Turbine in Semanu District, Gunungkidul Regency”. Penelitian ini mengkaji kelayakan revitalisasi sistem Pump-As-Turbine (PAT) Bribin II sebagai bagian dari upaya mendukung penyediaan air baku berkelanjutan bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.
Ketersediaan listrik yang andal menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung aktivitas masyarakat di wilayah perdesaan. Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk memperkuat pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik eksternal.
Upaya tersebut menjadi fokus penelitian Saiful M., mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) FT UGM dari konsentrasi Teknik Sistem Energi Baru Terbarukan (EBT). Gagasan penelitian berjudul Analisis Tekno-Ekonomi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTMH–PLTS) untuk Mendukung Desa Mandiri Energi Berbasis EBT di Padukuhan Kedungrong, Yogyakarta ini dipresentasikan dalam Seminar Proposal Tesis pada Rabu, 29 Juli 2026 di Ruang 202 Gedung MeTSi Lantai 2.
Percepatan transisi energi nasional menuntut pembangunan pembangkit energi terbarukan yang tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga mampu beroperasi secara optimal. Pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar, perubahan spesifikasi teknologi maupun kondisi tapak selama proses perencanaan dan konstruksi dapat memengaruhi kinerja pembangkit dalam jangka panjang. Oleh karena itu, evaluasi berbasis simulasi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap perubahan desain tetap menghasilkan performa sistem yang optimal.
Transisi energi global mendorong berbagai negara untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sekaligus memastikan keberlanjutan pengelolaannya di tingkat lokal. Di Indonesia, pembangkit energi terbarukan berbasis komunitas telah berkembang sebagai solusi untuk meningkatkan akses energi, terutama di wilayah pedesaan. Namun, keberhasilan sistem tersebut tidak hanya ditentukan oleh kinerja teknologi, melainkan juga dipengaruhi oleh tata kelola kelembagaan, pembiayaan, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan operasionalnya.
Prestasi mahasiswa Indonesia kembali mendapat pengakuan pada forum akademik internasional. Tim mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih Juara 1 Poster Competition pada 16th Annual International Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) 2026 yang diselenggarakan di Ankara, Türkiye, pada 23-25 Juni 2026. Penghargaan tersebut diraih melalui poster ilmiah yang mengangkat proyeksi sistem ketenagalistrikan dan emisi karbon Indonesia menuju tahun 2060 sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional.