Transisi energi global mendorong berbagai negara untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sekaligus memastikan keberlanjutan pengelolaannya di tingkat lokal. Di Indonesia, pembangkit energi terbarukan berbasis komunitas telah berkembang sebagai solusi untuk meningkatkan akses energi, terutama di wilayah pedesaan. Namun, keberhasilan sistem tersebut tidak hanya ditentukan oleh kinerja teknologi, melainkan juga dipengaruhi oleh tata kelola kelembagaan, pembiayaan, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan operasionalnya.
SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau)
Prestasi mahasiswa Indonesia kembali mendapat pengakuan pada forum akademik internasional. Tim mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih Juara 1 Poster Competition pada 16th Annual International Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) 2026 yang diselenggarakan di Ankara, Türkiye, pada 23-25 Juni 2026. Penghargaan tersebut diraih melalui poster ilmiah yang mengangkat proyeksi sistem ketenagalistrikan dan emisi karbon Indonesia menuju tahun 2060 sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional.
Transisi menuju sistem energi rendah karbon mendorong berbagai negara untuk mempercepat integrasi energi terbarukan ke dalam infrastruktur pembangkit listrik yang sudah ada. Di tengah dominasi pembangkit berbahan bakar fosil, pemanfaatan energi surya pada kawasan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulai berkembang sebagai salah satu strategi untuk menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi sistem energi nasional. Pendekatan ini menjadi semakin penting bagi Indonesia yang tengah menghadapi tantangan menjaga ketahanan energi sembari memenuhi target penurunan emisi gas rumah kaca.
Akses energi bersih masih menjadi tantangan di banyak wilayah, terutama pada kawasan yang memiliki potensi sumber daya energi terbarukan tetapi belum didukung sistem perencanaan dan pendanaan yang memadai. Di berbagai negara, transformasi energi mulai mengarah pada pendekatan yang lebih partisipatif dengan memanfaatkan teknologi digital, analisis spasial, dan keterlibatan masyarakat untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan. Pendekatan ini membuka peluang bagi komunitas lokal untuk berperan sebagai penggerak sekaligus penerima manfaat dalam pembangunan infrastruktur energi.
Keselamatan kerja dan efisiensi energi menjadi dua tantangan utama dalam operasi tambang bawah tanah di berbagai negara. Seiring meningkatnya aktivitas pertambangan bawah tanah untuk memenuhi kebutuhan mineral dan logam strategis, pengelolaan kualitas udara di area tambang menjadi aspek yang semakin krusial. Organisasi internasional di bidang pertambangan dan keselamatan kerja menempatkan ventilasi tambang sebagai salah satu sistem paling penting karena berperan langsung dalam melindungi pekerja dari paparan gas beracun, debu, dan partikulat yang berbahaya bagi kesehatan. Dalam operasi underground hard-rock mine, kegiatan peledakan (blasting) menghasilkan berbagai kontaminan udara, seperti nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), debu, dan partikulat yang dapat bertahan dalam ruang kerja dalam periode tertentu. Kondisi tersebut mengharuskan sistem ventilasi bekerja secara efektif untuk membersihkan area tambang sebelum aktivitas produksi dapat dilanjutkan. Namun, pengoperasian sistem ventilasi juga memerlukan konsumsi energi yang besar dan menjadi salah satu komponen biaya operasional tertinggi dalam kegiatan pertambangan bawah tanah.
Dekarbonisasi sektor maritim menjadi salah satu agenda penting dalam transisi energi global. International Maritime Organization (IMO) mendorong berbagai negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor pelayaran dan aktivitas kepelabuhanan melalui peningkatan efisiensi energi, penggunaan energi bersih, serta pengembangan infrastruktur pelabuhan yang berkelanjutan. Dalam perkembangan tersebut, konsep green port semakin mendapat perhatian karena dipandang mampu mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab. Dalam konteks tersebut, pelabuhan tidak lagi dipandang semata sebagai simpul logistik, tetapi juga sebagai pusat aktivitas industri yang memiliki pengaruh besar terhadap konsumsi energi dan emisi karbon. Aktivitas bongkar muat, operasional peralatan pelabuhan, lalu lintas kapal, dan kegiatan industri di sekitar kawasan pelabuhan berkontribusi terhadap penggunaan energi yang tinggi dan peningkatan tekanan lingkungan. Kondisi ini mendorong berbagai pelabuhan di dunia untuk menerapkan konsep green port sebagai bagian dari strategi pembangunan industri yang berkelanjutan.
Transisi menuju sistem energi rendah karbon mendorong berbagai negara untuk mempercepat pengembangan ekonomi hidrogen. Hidrogen dipandang sebagai salah satu energy carrier yang berpotensi mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan pembangkitan listrik. Namun, pengembangan rantai pasok hidrogen masih menghadapi tantangan besar, terutama pada aspek infrastruktur transportasi yang membutuhkan investasi tinggi dan waktu implementasi yang panjang. Dalam konteks tersebut, repurposing infrastruktur minyak dan gas eksisting mulai berkembang sebagai salah satu strategi yang menjanjikan. Berbagai negara mulai mengkaji penggunaan jaringan pipa migas yang telah beroperasi untuk mendukung distribusi hidrogen karena dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan lebih cepat diimplementasikan dibandingkan pembangunan jaringan pipa baru. Pendekatan ini juga membuka peluang transformasi infrastruktur energi konvensional menuju sistem energi rendah karbon yang lebih berkelanjutan.
Ketahanan pangan dan transisi energi menjadi dua agenda global yang semakin saling terkait dalam beberapa tahun terakhir. Food and Agriculture Organization (FAO) menekankan pentingnya pengembangan sistem pangan yang lebih berkelanjutan, termasuk melalui penerapan teknologi energi bersih pada sektor perikanan dan pertanian. Di saat yang sama, pemanfaatan energi surya berkembang pesat sebagai solusi untuk menyediakan energi yang terjangkau, rendah emisi, dan dapat menjangkau berbagai aktivitas produktif di tingkat lokal. Dalam konteks budidaya perikanan, kebutuhan energi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan produktivitas dan efisiensi usaha. Aerator berperan dalam menjaga kadar oksigen terlarut di dalam kolam sehingga kualitas air tetap terjaga dan pertumbuhan ikan berlangsung secara optimal. Namun, penggunaan aerator berbasis listrik konvensional dapat meningkatkan biaya operasional, terutama pada kolam budidaya yang memerlukan aerasi dalam waktu panjang dan beroperasi secara terus-menerus.
Peningkatan efisiensi energi menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi global, terutama pada sektor pembangkitan energi terbarukan. Berbagai negara mulai mengembangkan pendekatan waste heat recovery untuk memanfaatkan panas sisa dari proses industri dan pembangkitan listrik guna meningkatkan efisiensi sistem energi secara menyeluruh. Pendekatan ini berkembang karena sebagian energi termal pada sistem pembangkitan masih belum termanfaatkan secara optimal dan terbuang ke lingkungan. Dalam konteks pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), fluida brine yang diinjeksikan kembali ke reservoir masih menyimpan potensi panas sisa yang cukup besar. Pemanfaatan panas residual tersebut membuka peluang pengembangan sistem energi terintegrasi yang mampu menghasilkan nilai tambah di luar fungsi utama pembangkitan listrik. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah untuk sistem pengeringan termal pada berbagai komoditas yang memerlukan proses pengeringan terkontrol dan berkelanjutan.
Transformasi sistem ketenagalistrikan global mendorong perusahaan utilitas di berbagai negara untuk memperkuat keandalan infrastruktur transmisi listrik. Peningkatan kebutuhan energi, integrasi energi baru dan terbarukan, serta penuaan aset jaringan (aging infrastructure) meningkatkan risiko gangguan pada sistem transmisi. Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan aset berbasis data berkembang menjadi pendekatan strategis untuk meningkatkan akurasi pemeliharaan, memperpanjang umur infrastruktur, dan mendeteksi potensi kegagalan sistem secara lebih dini. Dalam konteks tersebut, sistem Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas distribusi energi listrik nasional. Infrastruktur transmisi menghadapi tantangan operasional yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tingkat korosivitas atmosfer, karakter geografis wilayah, serta beban operasi jangka panjang. Faktor-faktor tersebut memengaruhi penurunan kondisi aset secara bertahap dan meningkatkan kebutuhan terhadap sistem pemantauan yang mampu membaca degradasi aset secara lebih presisi dan terukur.