Sektor industri Indonesia menghadapi tantangan ganda dalam beberapa tahun terakhir. Di satu sisi, kebutuhan energi listrik terus meningkat seiring ekspansi produksi. Di sisi lain, tekanan global terhadap dekarbonisasi dan potensi penerapan pajak karbon menuntut industri untuk bertransformasi menuju sumber energi yang lebih bersih. Ketergantungan pada listrik berbasis fosil bukan hanya berimplikasi pada emisi karbon, tetapi juga berisiko terhadap kenaikan biaya energi dalam jangka panjang.
Menjawab tantangan tersebut, Bagas Wahyu Dewangga, mahasiswa MeTSi dari konsentrasi Teknik Sistem Energi Baru dan Terbarukan melakukan analisis komprehensif terhadap implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU TS) di kawasan industri PT. X, Gresik, Jawa Timur.
Dalam tesis yang dibimbing oleh Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D. dan Dr. Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng., penelitian ini tidak hanya mengevaluasi aspek teknis, tetapi juga menghitung secara detail kelayakan investasi dan dampak lingkungan jangka panjang. Dengan potensi radiasi matahari rata-rata 5,18 kWh/m²/hari dan ketersediaan lahan lebih dari 2.400 meter persegi, kawasan industri tersebut memiliki kondisi yang ideal untuk pengembangan PLTS rooftop maupun ground-mounted.
Dua skenario desain dikembangkan dan disimulasikan menggunakan perangkat lunak PVSyst 8.0. Skenario pertama menghasilkan produksi energi 755,02 MWh per tahun, lebih tinggi dibandingkan skenario kedua sebesar 711,77 MWh. Dalam proyeksi umur sistem 25 tahun, energi kumulatif yang dihasilkan pada skenario pertama mencapai 17.785,21 MWh. Angka ini menunjukkan bahwa sistem surya mampu menjadi penopang kebutuhan energi industri dalam jangka panjang.
Dari sisi ekonomi, temuan penelitian menjadi semakin relevan. Nilai Net Present Value (NPV) pada skenario pertama mencapai Rp 6,45 miliar dengan Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar Rp 811/kWh, lebih rendah dibandingkan tarif listrik industri PLN. Periode pengembalian modal tercatat sekitar 7,6 tahun dengan tingkat pengembalian investasi hingga 15 persen. Artinya, PLTS tidak lagi sekadar proyek ramah lingkungan, tetapi juga instrumen penguatan daya saing industri.
Yang tak kalah penting adalah implikasi lingkungannya. Dengan faktor emisi sistem kelistrikan nasional sebesar 0,85 ton CO₂ per MWh, implementasi PLTS pada skenario pertama mampu menurunkan emisi sekitar 641,77 ton CO₂ per tahun. Dalam periode 25 tahun, total reduksi emisi diproyeksikan melampaui 16 ribu ton CO₂. Dalam konteks kebijakan pajak karbon, pengurangan ini juga berpotensi menghasilkan efisiensi biaya hingga ratusan juta rupiah selama umur proyek.
Bayu (sapaannya) menekankan bahwa keputusan investasi energi di sektor industri tidak lagi dapat dipisahkan dari pertimbangan risiko kebijakan dan keberlanjutan. “PLTS memberikan kepastian biaya energi jangka panjang sekaligus mengurangi eksposur terhadap potensi kenaikan tarif listrik dan pajak karbon,” ujarnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi analisis teknoekonomi dan evaluasi dampak lingkungan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih strategis bagi sektor industri. Melalui riset aplikatif seperti ini, MeTSi FT UGM mempertegas perannya dalam mendorong transformasi sistem energi industri menuju model yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.
ditulis oleh Arham