• UGM
  • FT-UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • Ujian Masuk UGM
  • webmail
Universitas Gadjah Mada Magister Teknik Sistem
Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Akreditasi
    • Konsentrasi Studi
    • Pengelola & Staf
    • Dosen Pengajar
    • Hubungi Kami
  • Admisi
    • Informasi Seputar MeTSi
    • Jadwal Pendaftaran
    • Tata Cara Pendaftaran
    • Video Tutorial Pendaftaran
    • Leaflet & Flyer MeTSi
    • Contoh Soal TPA/TOEFL
  • Akademik
    • Magister berbasis Kuliah
      • Peta Kurikulum
      • Pra Kuliah
      • Mata Kuliah Semester I
      • Mata Kuliah Semester II
      • Mata Kuliah Semester III
      • Tesis Semester IV
      • SAP
    • Magister berbasis Penelitian
      • Alur Kurikulum
      • Mata Kuliah
    • Tema Penelitian Mahasiswa
  • Alumni
    • Testimoni Alumni
    • Bidang Kerja Alumni
    • Daftar Alumni
    • Peta Sebaran Alumni
    • Layanan Legalisasi
  • Galery MeTSi
  • Tracer Study
    • Formulir
      • Tracer Study Mahasiswa
      • Tracer Study Alumni
      • Tracer Pengguna Alumni
    • Laporan
      • Laporan Survey Kepuasan Mahasiswa MeTSi
      • Laporan Tracer Lulusan MeTSi
      • Laporan Tracer Pengguna Lulusan MeTSi
  • Beranda
  • Berita
  • Riset Chandra Fadlilah: Ubah Limpasan Air Hujan Jadi Energi dan Bernilai Ekonomi

Riset Chandra Fadlilah: Ubah Limpasan Air Hujan Jadi Energi dan Bernilai Ekonomi

  • Berita
  • 19 December 2025, 14.07
  • Oleh: Humas
  • 0

Variabilitas iklim Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar dalam pengelolaan sumber daya air. Fenomena hujan tinggi yang kerap berujung banjir, apabila tidak dikelola dengan baik, justru berpotensi menjadi bencana. Berangkat dari persoalan tersebut, Chandra Fadlilah, mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Universitas Gadjah Mada angkatan 2024 genap, menghadirkan riset inovatif bertajuk “Kajian Rancangan Sistem Pemanen Air Hujan Atap dan Embung untuk Produksi Energi dan Air.”

Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Ir. Suhanan, DEA., IPU. dan Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng. dengan fokus pada pemanfaatan air hujan sebagai sumber energi terbarukan, air bersih, dan air pertanian secara terintegrasi.

Indonesia memiliki karakter iklim yang sangat beragam. Menariknya, terdapat zona satu musim di Pulau Jawa yang mengalami hujan hampir sepanjang tahun, dengan curah hujan terendah mencapai 168 mm pada bulan Agustus. Jumlah ini sebenarnya menyimpan potensi besar apabila dikelola melalui teknologi Pemanenan Air Hujan (PAH), yakni sistem yang dirancang untuk menampung dan memanfaatkan air hujan secara maksimal pada musim hujan untuk digunakan kembali pada musim kemarau.

Dalam riset ini, Chandra mengkaji tiga skenario rancangan sistem PAH, yaitu:

  1. Skenario I: sistem pemanenan air hujan berbasis embung,
  2. Skenario II: sistem pemanenan air hujan berbasis atap, dan
  3. Skenario III: sistem terintegrasi PAH atap dan embung.

Air hujan yang berhasil dipanen dari ketiga skenario tersebut dirancang untuk menggerakkan pembangkit listrik piko hidro, memenuhi kebutuhan air baku, serta mendukung irigasi pertanian sawah padi. Tidak hanya itu, sisa air yang tersimpan di embung juga berpotensi dikembangkan untuk kegiatan pariwisata, seperti wahana sepeda air, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Hasil kajian menunjukkan bahwa debit air yang dihasilkan berkisar antara 0,000128–0,001959 m³/detik, dengan potensi daya listrik pada Skenario I sebesar 6,15–67,05 watt. Alokasi air baku mencapai 0–489,7728 m³ per dasarian, sementara alokasi untuk kebutuhan pertanian berada pada rentang 1,46–620,811 m³.

Untuk menilai kelayakan sistem, dilakukan analisis ekonomi menggunakan indikator Payback Period (PbP), Benefit–Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR). Hasilnya, Skenario III dinyatakan sebagai rancangan paling layak secara teknis dan ekonomis, dengan PbP selama 9 tahun 7 bulan, BCR sebesar 1,08, dan IRR mencapai 15,17%.

Riset ini menunjukkan bahwa air hujan bukan sekadar limpasan yang harus dibuang, melainkan sumber daya strategis yang mampu mendukung ketahanan energi, ketahanan air, dan pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi.

Ditulis oleh Arham

Tags: SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim SDG 15 (Ekosistem Daratan) SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Berita

  • Membangun Kepemimpinan dan Sistem di Pemerintahan ala Achmad Tarmizi (Alumnus MeTSi)
  • Kuliah Offline dan Online, Apa Saja Tantangannya?
  • Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru MeTSi Semester Genap T.A. 2025/2026
  • Hermawan Kaji Kelayakan Stasiun Pengisian Hidrogen Hijau Perkotaan sebagai Fondasi Ekosistem Transportasi Rendah Emisi
  • Dliyaa Ul Haq Tawarkan Strategi Penguatan Rantai Pasok Gas Nasional Lewat Pendekatan System Dynamics
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Magister Teknik Sistem [MeTSi]
Fakultas Teknik – Universitas Gadjah Mada
Jl. Teknika Utara No. 3 Barek, Yogyakarta 55281

Telp. : (0274) 550404, 6491852
Fax. : (0274) 550405

MeTSi Official Whatsapp: +62 821-6453-8871 (WA)
Kontak Admisi : +62 811-2550-405 (Call HP/WA)
Email : metsi.ft@ugm.ac.id

© 2017 MeTSi FT-UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY