Variabilitas iklim Indonesia sebagai negara kepulauan menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar dalam pengelolaan sumber daya air. Fenomena hujan tinggi yang kerap berujung banjir, apabila tidak dikelola dengan baik, justru berpotensi menjadi bencana. Berangkat dari persoalan tersebut, Chandra Fadlilah, mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Universitas Gadjah Mada angkatan 2024 genap, menghadirkan riset inovatif bertajuk “Kajian Rancangan Sistem Pemanen Air Hujan Atap dan Embung untuk Produksi Energi dan Air.”
Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Ir. Suhanan, DEA., IPU. dan Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng. dengan fokus pada pemanfaatan air hujan sebagai sumber energi terbarukan, air bersih, dan air pertanian secara terintegrasi.
Indonesia memiliki karakter iklim yang sangat beragam. Menariknya, terdapat zona satu musim di Pulau Jawa yang mengalami hujan hampir sepanjang tahun, dengan curah hujan terendah mencapai 168 mm pada bulan Agustus. Jumlah ini sebenarnya menyimpan potensi besar apabila dikelola melalui teknologi Pemanenan Air Hujan (PAH), yakni sistem yang dirancang untuk menampung dan memanfaatkan air hujan secara maksimal pada musim hujan untuk digunakan kembali pada musim kemarau.
Dalam riset ini, Chandra mengkaji tiga skenario rancangan sistem PAH, yaitu:
- Skenario I: sistem pemanenan air hujan berbasis embung,
- Skenario II: sistem pemanenan air hujan berbasis atap, dan
- Skenario III: sistem terintegrasi PAH atap dan embung.
Air hujan yang berhasil dipanen dari ketiga skenario tersebut dirancang untuk menggerakkan pembangkit listrik piko hidro, memenuhi kebutuhan air baku, serta mendukung irigasi pertanian sawah padi. Tidak hanya itu, sisa air yang tersimpan di embung juga berpotensi dikembangkan untuk kegiatan pariwisata, seperti wahana sepeda air, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Hasil kajian menunjukkan bahwa debit air yang dihasilkan berkisar antara 0,000128–0,001959 m³/detik, dengan potensi daya listrik pada Skenario I sebesar 6,15–67,05 watt. Alokasi air baku mencapai 0–489,7728 m³ per dasarian, sementara alokasi untuk kebutuhan pertanian berada pada rentang 1,46–620,811 m³.
Untuk menilai kelayakan sistem, dilakukan analisis ekonomi menggunakan indikator Payback Period (PbP), Benefit–Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR). Hasilnya, Skenario III dinyatakan sebagai rancangan paling layak secara teknis dan ekonomis, dengan PbP selama 9 tahun 7 bulan, BCR sebesar 1,08, dan IRR mencapai 15,17%.
Riset ini menunjukkan bahwa air hujan bukan sekadar limpasan yang harus dibuang, melainkan sumber daya strategis yang mampu mendukung ketahanan energi, ketahanan air, dan pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi.
Ditulis oleh Arham