Transisi menuju sistem transportasi rendah karbon di Indonesia memerlukan inovasi teknologi sekaligus kajian keekonomian yang matang. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Universitas Gadjah Mada (UGM) program Magister by Research (MbR), Hermawan, melakukan riset bertajuk Perencanaan dan Analisis Tekno Ekonomi Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (Studi Kasus: PT ABC di Area Jakarta).
Penelitian ini berangkat dari meningkatnya emisi karbon dioksida (CO₂) sektor transportasi darat serta komitmen nasional dan global dalam percepatan penurunan emisi gas rumah kaca. Hidrogen dinilai sebagai kandidat kuat bahan bakar masa depan karena bersifat tanpa emisi pada titik penggunaan, memiliki densitas energi tinggi, serta waktu pengisian yang cepat, sehingga relevan untuk kebutuhan mobilitas perkotaan
Riset ini memfokuskan pada pengembangan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH) skala kecil dengan kapasitas produksi ≤10 kg hidrogen per hari. Hidrogen diproduksi secara in situ menggunakan teknologi elektrolisis air yang disuplai listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pendekatan ini dirancang untuk menekan kompleksitas rantai pasok, mengurangi biaya logistik, serta memastikan hidrogen yang dihasilkan tergolong hidrogen hijau atau rendah emisi
Dari sisi teknis, kajian mencakup pemilihan teknologi elektroliser alkaline water electrolyzer dan proton exchange membrane (PEM) dengan mempertimbangkan efisiensi, biaya investasi, kematangan teknologi, serta kesesuaian operasional di lingkungan perkotaan. Sistem penyimpanan hidrogen bertekanan dan integrasi PLTS juga dianalisis untuk memastikan keandalan dan keselamatan sistem SPBH.
Sementara itu, analisis ekonomi dilakukan menggunakan indikator CAPEX, OPEX, biaya produksi hidrogen per kilogram, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), serta Minimum Selling Price (MSP) dengan asumsi umur proyek 10 tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa SPBH skala kecil masih berada pada batas keekonomian, dengan NPV mendekati nol pada harga jual tertentu. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan kebijakan, insentif, atau skema pembiayaan khusus agar proyek percontohan hidrogen dapat layak secara finansial.
Meski demikian, penelitian ini menegaskan peran strategis SPBH skala kecil sebagai fase inisiasi pengembangan hidrogen nasional, sejalan dengan Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional. Selain berkontribusi pada pengurangan emisi, proyek ini berpotensi menjadi laboratorium pembelajaran teknis, operasional, dan bisnis dalam membangun ekosistem hidrogen Indonesia secara berkelanjutan.
Penelitian Hermawan dibimbing oleh Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D. dan Dr. Ir. Suhanan, DEA., IPU. Hasil riset diharapkan dapat menjadi rujukan bagi PT ABC, pemerintah, serta akademisi dalam merumuskan kebijakan, strategi investasi, dan penelitian lanjutan terkait pemanfaatan hidrogen sebagai bahan bakar transportasi berkelanjutan di Indonesia.
ditulis oleh Arham
direview oleh Humas MeTSi