Ketahanan rantai pasok menjadi salah satu isu strategis yang mendapat perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir. Disrupsi pascapandemi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, serta meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan mendorong berbagai organisasi memperkuat sistem manajemen risiko pada seluruh proses rantai pasok. Di sektor konstruksi, tantangan tersebut semakin kompleks karena setiap tahapan proyek melibatkan banyak pemangku kepentingan, ketergantungan terhadap pemasok, serta penerapan prinsip green supply chain yang menuntut keseimbangan antara kinerja operasional dan keberlanjutan lingkungan. Kebutuhan akan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi menjadi dasar penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Juara Agung Ananta, dari konsentrasi Teknik Sistem Industri. Dalam seminar hasil tesis yang diselenggarakan pada Selasa (2/6) di Perpustakaan MeTSi Lantai 2, Juara mempresentasikan penelitian berjudul “Perancangan Risk Based Performance Management melalui Green Supply Chain Operation Reference dengan Metode House of Risk dan DEMATEL.”
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pengelolaan risiko pada proyek konstruksi yang masih dilakukan secara parsial dan belum terintegrasi dengan sistem pengukuran kinerja. Kondisi tersebut menyulitkan organisasi dalam memahami hubungan antara sumber risiko, efektivitas pengendalian, dan pencapaian kinerja rantai pasok. Oleh karena itu, penelitian ini merancang Risk Based Performance Management (RBPM) sebagai kerangka yang menghubungkan manajemen risiko dan pengukuran kinerja dalam satu sistem yang terstruktur. Perancangan RBPM dilakukan menggunakan kerangka Green Supply Chain Operation Reference (GSCOR) yang mencakup lima proses utama, yaitu Plan, Source, Make, Deliver, dan Return. Penelitian mengidentifikasi 9 risk event dan 8 risk agent yang memengaruhi kinerja rantai pasok proyek konstruksi. Selanjutnya, metode House of Risk (HOR) Fase 1 digunakan untuk menentukan prioritas risiko berdasarkan nilai Aggregate Risk Priority (ARP), sedangkan HOR Fase 2 digunakan untuk menetapkan prioritas strategi mitigasi melalui nilai Effectiveness to Difficulty Ratio (ETD).
Untuk memperoleh gambaran hubungan antar risiko, penelitian memanfaatkan metode Decision Making Trial and Evaluation Laboratory (DEMATEL). Analisis ini mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antar risiko sehingga dapat diketahui kelompok risiko yang berperan sebagai penyebab utama (cause) maupun risiko yang muncul sebagai dampak (effect) dalam sistem rantai pasok. Hasil analisis tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam rancangan Risk Based Performance Management melalui penyusunan 7 Key Performance Indicator (KPI), 10 Key Risk Indicator (KRI), dan 12 Key Control Indicator (KCI) sebagai dasar pemantauan kinerja, risiko, dan pengendalian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko pada proses Plan dan Source berperan sebagai risk driver utama yang memengaruhi proses rantai pasok lainnya. Penelitian juga menemukan adanya konsentrasi risiko pada beberapa risk agent dominan sehingga strategi mitigasi perlu diprioritaskan pada kelompok risiko kategori cause yang memiliki pengaruh terbesar terhadap sistem secara keseluruhan. Integrasi metode House of Risk dan DEMATEL dalam kerangka Risk Based Performance Management menghasilkan sistem pengelolaan risiko yang lebih terstruktur, terukur, dan terintegrasi dengan pengukuran kinerja perusahaan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan risiko yang efektif memerlukan pemahaman menyeluruh terhadap hubungan antar proses dalam rantai pasok. Pendekatan berbasis sistem memungkinkan organisasi mengidentifikasi akar penyebab risiko, menentukan prioritas mitigasi, serta mengevaluasi efektivitas pengendalian melalui indikator kinerja yang terukur. Kerangka ini memberikan dasar yang lebih kuat bagi pengambilan keputusan dalam pengelolaan rantai pasok hijau pada proyek konstruksi.
Penelitian ini berada di bawah bimbingan Ir. Joko Waluyo, M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng. sebagai dosen pembimbing utama dan Ir. Andi Rahadiyan Wijaya, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. sebagai dosen pembimbing pendamping. Melalui penelitian ini, MeTSi FT UGM terus memperkuat pengembangan riset rekayasa sistem yang menjawab tantangan industri global melalui pendekatan berbasis data, manajemen risiko, dan keberlanjutan. Integrasi Risk Based Performance Management, Green Supply Chain, dan metode analitis yang diterapkan dalam penelitian ini menunjukkan bagaimana rekayasa sistem mampu mendukung organisasi membangun rantai pasok yang lebih tangguh, adaptif, dan berdaya saing. Kontribusi tersebut sekaligus mempertegas komitmen MeTSi FT UGM dalam menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri serta mendukung transformasi menuju sistem operasi yang semakin efisien dan berkelanjutan.
Penulis: Arham