Transisi menuju sistem energi rendah karbon mendorong berbagai negara untuk mempercepat pengembangan ekonomi hidrogen. Hidrogen dipandang sebagai salah satu energy carrier yang berpotensi mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan pembangkitan listrik. Namun, pengembangan rantai pasok hidrogen masih menghadapi tantangan besar, terutama pada aspek infrastruktur transportasi yang membutuhkan investasi tinggi dan waktu implementasi yang panjang. Dalam konteks tersebut, repurposing infrastruktur minyak dan gas eksisting mulai berkembang sebagai salah satu strategi yang menjanjikan. Berbagai negara mulai mengkaji penggunaan jaringan pipa migas yang telah beroperasi untuk mendukung distribusi hidrogen karena dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan lebih cepat diimplementasikan dibandingkan pembangunan jaringan pipa baru. Pendekatan ini juga membuka peluang transformasi infrastruktur energi konvensional menuju sistem energi rendah karbon yang lebih berkelanjutan.
Berita
Ketahanan pangan dan transisi energi menjadi dua agenda global yang semakin saling terkait dalam beberapa tahun terakhir. Food and Agriculture Organization (FAO) menekankan pentingnya pengembangan sistem pangan yang lebih berkelanjutan, termasuk melalui penerapan teknologi energi bersih pada sektor perikanan dan pertanian. Di saat yang sama, pemanfaatan energi surya berkembang pesat sebagai solusi untuk menyediakan energi yang terjangkau, rendah emisi, dan dapat menjangkau berbagai aktivitas produktif di tingkat lokal. Dalam konteks budidaya perikanan, kebutuhan energi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan produktivitas dan efisiensi usaha. Aerator berperan dalam menjaga kadar oksigen terlarut di dalam kolam sehingga kualitas air tetap terjaga dan pertumbuhan ikan berlangsung secara optimal. Namun, penggunaan aerator berbasis listrik konvensional dapat meningkatkan biaya operasional, terutama pada kolam budidaya yang memerlukan aerasi dalam waktu panjang dan beroperasi secara terus-menerus.
Peningkatan efisiensi energi menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi global, terutama pada sektor pembangkitan energi terbarukan. Berbagai negara mulai mengembangkan pendekatan waste heat recovery untuk memanfaatkan panas sisa dari proses industri dan pembangkitan listrik guna meningkatkan efisiensi sistem energi secara menyeluruh. Pendekatan ini berkembang karena sebagian energi termal pada sistem pembangkitan masih belum termanfaatkan secara optimal dan terbuang ke lingkungan. Dalam konteks pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), fluida brine yang diinjeksikan kembali ke reservoir masih menyimpan potensi panas sisa yang cukup besar. Pemanfaatan panas residual tersebut membuka peluang pengembangan sistem energi terintegrasi yang mampu menghasilkan nilai tambah di luar fungsi utama pembangkitan listrik. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah untuk sistem pengeringan termal pada berbagai komoditas yang memerlukan proses pengeringan terkontrol dan berkelanjutan.
Ketahanan rantai pasok menjadi salah satu isu strategis yang mendapat perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir. Disrupsi pascapandemi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, serta meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan mendorong berbagai organisasi memperkuat sistem manajemen risiko pada seluruh proses rantai pasok. Di sektor konstruksi, tantangan tersebut semakin kompleks karena setiap tahapan proyek melibatkan banyak pemangku kepentingan, ketergantungan terhadap pemasok, serta penerapan prinsip green supply chain yang menuntut keseimbangan antara kinerja operasional dan keberlanjutan lingkungan. Kebutuhan akan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi menjadi dasar penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Juara Agung Ananta, dari konsentrasi Teknik Sistem Industri. Dalam seminar hasil tesis yang diselenggarakan pada Selasa (2/6) di Perpustakaan MeTSi Lantai 2, Juara mempresentasikan penelitian berjudul “Perancangan Risk Based Performance Management melalui Green Supply Chain Operation Reference dengan Metode House of Risk dan DEMATEL.”
Transformasi sistem ketenagalistrikan global mendorong perusahaan utilitas di berbagai negara untuk memperkuat keandalan infrastruktur transmisi listrik. Peningkatan kebutuhan energi, integrasi energi baru dan terbarukan, serta penuaan aset jaringan (aging infrastructure) meningkatkan risiko gangguan pada sistem transmisi. Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan aset berbasis data berkembang menjadi pendekatan strategis untuk meningkatkan akurasi pemeliharaan, memperpanjang umur infrastruktur, dan mendeteksi potensi kegagalan sistem secara lebih dini. Dalam konteks tersebut, sistem Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas distribusi energi listrik nasional. Infrastruktur transmisi menghadapi tantangan operasional yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tingkat korosivitas atmosfer, karakter geografis wilayah, serta beban operasi jangka panjang. Faktor-faktor tersebut memengaruhi penurunan kondisi aset secara bertahap dan meningkatkan kebutuhan terhadap sistem pemantauan yang mampu membaca degradasi aset secara lebih presisi dan terukur.
Ketahanan energi global menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring meningkatnya kebutuhan energi, fluktuasi pasokan, dinamika geopolitik, serta perubahan struktur konsumsi energi dunia. Dalam sektor gas alam, stabilitas rantai pasok menjadi faktor strategis karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan distribusi energi bagi industri, transportasi, dan kebutuhan domestik. Kondisi ini mendorong perlunya sistem pengelolaan energi yang mampu mengintegrasikan aspek pasokan, infrastruktur, distribusi, dan kebijakan energi secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, sistem Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG) memiliki peran penting dalam mendukung distribusi gas nasional. Pengembangan kedua sistem ini memerlukan kesiapan pasokan hulu, kapasitas infrastruktur hilir, fleksibilitas distribusi, serta strategi cadangan energi untuk menjaga stabilitas pasokan dalam jangka panjang. Hubungan antarvariabel dalam sistem distribusi gas juga bersifat dinamis, sehingga memerlukan pendekatan analitis yang mampu memetakan interaksi sistem secara menyeluruh.
Kemandirian teknologi menjadi isu strategis global di tengah meningkatnya kompetisi industri, transformasi energi, dan penguatan rantai pasok nasional di berbagai negara. Penguasaan teknologi industri berperan penting dalam menentukan daya saing ekonomi, kapasitas manufaktur, serta ketahanan industri strategis. Dalam sektor energi dan petrokimia, pengembangan teknologi katalis menjadi perhatian utama karena katalis memegang peran penting dalam berbagai proses produksi industri modern. Dalam konteks tersebut, Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap produk dan teknologi katalis impor untuk memenuhi kebutuhan industri energi, petrokimia, dan sektor strategis lainnya. Kondisi ini berdampak pada tingginya biaya pengadaan, keterbatasan penguasaan teknologi domestik, serta lemahnya ketahanan rantai pasok nasional. Pengembangan industri katalis dalam negeri menjadi langkah penting untuk memperkuat kemampuan nasional dalam produksi teknologi strategis sekaligus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Pengembangan hidrogen hijau menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi global seiring meningkatnya kebutuhan terhadap sistem energi rendah karbon. Berbagai negara mulai mengembangkan teknologi hidrogen untuk mendukung dekarbonisasi industri, penyimpanan energi, serta pengurangan emisi pada sektor transportasi dan pembangkitan listrik. Dalam perkembangan tersebut, integrasi energi terbarukan dengan teknologi produksi hidrogen menjadi perhatian penting untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi jangka panjang. Dalam konteks tersebut, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki potensi strategis karena mampu menghasilkan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan. Karakteristik ini menjadikan PLTP berbeda dibandingkan sumber energi terbarukan intermiten seperti surya dan angin. Namun, pada kondisi operasional tertentu terdapat excess energy yang belum termanfaatkan secara optimal oleh jaringan listrik. Kondisi ini membuka peluang pengembangan sistem energi terintegrasi yang mampu mengubah energi surplus menjadi produk energi bernilai tambah.
Transformasi sistem energi global mendorong pengembangan teknologi yang mampu mengintegrasikan ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat secara simultan. Dalam konteks tersebut, pendekatan agrivoltaic berkembang sebagai model inovatif yang mengombinasikan pembangkitan listrik tenaga surya dengan aktivitas pertanian dalam satu sistem terpadu. Pendekatan ini dinilai relevan untuk mendukung transisi energi sekaligus meningkatkan produktivitas lahan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya di tingkat lokal. Dalam kerangka pengembangan teknologi berbasis sistem tersebut, dosen Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., memimpin kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi Agrivoltaic Smart-Farming di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman. Program ini merupakan bagian dari skema Equity Community Development Berbasis Riset Aplikatif dan Pemberdayaan Masyarakat dengan Kolaborator Internasional Tahun Anggaran 2026, yang didanai Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM.
Perubahan lanskap pekerjaan global berlangsung semakin cepat seiring perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan transformasi industri berbasis inovasi. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa banyak jenis pekerjaan mengalami perubahan kompetensi secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menuntut lulusan perguruan tinggi untuk memiliki kesiapan karier yang adaptif, kemampuan belajar berkelanjutan, serta strategi pengembangan diri yang terarah sejak awal memasuki dunia profesional. Dalam konteks tersebut, kebutuhan terhadap ruang diskusi mengenai arah karier menjadi semakin relevan bagi lulusan perguruan tinggi yang sedang menghadapi fase transisi dari dunia akademik menuju dunia profesional, studi lanjut, maupun kewirausahaan. Menjawab kebutuhan tersebut, Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Ngopi (ngobrol pagi) Online bertema “Lulus Sarjana, Mau ke Mana?” pada Jumat (15/5). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh sekitar 300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan terbuka untuk peserta umum.