Pengembangan hidrogen hijau menjadi salah satu fokus utama dalam transisi energi global seiring meningkatnya kebutuhan terhadap sistem energi rendah karbon. Berbagai negara mulai mengembangkan teknologi hidrogen untuk mendukung dekarbonisasi industri, penyimpanan energi, serta pengurangan emisi pada sektor transportasi dan pembangkitan listrik. Dalam perkembangan tersebut, integrasi energi terbarukan dengan teknologi produksi hidrogen menjadi perhatian penting untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi jangka panjang. Dalam konteks tersebut, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki potensi strategis karena mampu menghasilkan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan. Karakteristik ini menjadikan PLTP berbeda dibandingkan sumber energi terbarukan intermiten seperti surya dan angin. Namun, pada kondisi operasional tertentu terdapat excess energy yang belum termanfaatkan secara optimal oleh jaringan listrik. Kondisi ini membuka peluang pengembangan sistem energi terintegrasi yang mampu mengubah energi surplus menjadi produk energi bernilai tambah.
Berita
Transformasi sistem energi global mendorong pengembangan teknologi yang mampu mengintegrasikan ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat secara simultan. Dalam konteks tersebut, pendekatan agrivoltaic berkembang sebagai model inovatif yang mengombinasikan pembangkitan listrik tenaga surya dengan aktivitas pertanian dalam satu sistem terpadu. Pendekatan ini dinilai relevan untuk mendukung transisi energi sekaligus meningkatkan produktivitas lahan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya di tingkat lokal. Dalam kerangka pengembangan teknologi berbasis sistem tersebut, dosen Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., memimpin kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi Agrivoltaic Smart-Farming di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman. Program ini merupakan bagian dari skema Equity Community Development Berbasis Riset Aplikatif dan Pemberdayaan Masyarakat dengan Kolaborator Internasional Tahun Anggaran 2026, yang didanai Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM.
Perubahan lanskap pekerjaan global berlangsung semakin cepat seiring perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan transformasi industri berbasis inovasi. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa banyak jenis pekerjaan mengalami perubahan kompetensi secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menuntut lulusan perguruan tinggi untuk memiliki kesiapan karier yang adaptif, kemampuan belajar berkelanjutan, serta strategi pengembangan diri yang terarah sejak awal memasuki dunia profesional. Dalam konteks tersebut, kebutuhan terhadap ruang diskusi mengenai arah karier menjadi semakin relevan bagi lulusan perguruan tinggi yang sedang menghadapi fase transisi dari dunia akademik menuju dunia profesional, studi lanjut, maupun kewirausahaan. Menjawab kebutuhan tersebut, Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Ngopi (ngobrol pagi) Online bertema “Lulus Sarjana, Mau ke Mana?” pada Jumat (15/5). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh sekitar 300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan terbuka untuk peserta umum.
Ketahanan rantai pasok mineral strategis menjadi isu global yang semakin penting seiring percepatan transisi energi dan perkembangan industri teknologi maju. Kebutuhan terhadap Rare Earth Elements (REE) meningkat tajam karena material ini digunakan dalam berbagai teknologi strategis, seperti baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, turbin angin, hingga perangkat elektronik berteknologi tinggi. Persaingan penguasaan rantai pasok REE juga berkembang menjadi bagian dari dinamika ekonomi dan geopolitik global. Dalam konteks tersebut, hilirisasi REE menjadi agenda strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah industri sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pengembangan roadmap hilirisasi diperlukan untuk memastikan pengelolaan sumber daya mineral dilakukan secara terintegrasi, mulai dari rantai pasok, penguatan industri, hingga stabilitas ekonomi jangka panjang.
Transformasi sistem energi global menggeser perhatian pada rantai pasok energi, termasuk sektor transportasi. Distribusi batubara melalui jalur laut tetap menjadi komponen utama dalam sistem energi, terutama pada negara dengan konsumsi energi tinggi. Aktivitas ini menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar serta membutuhkan konsumsi bahan bakar yang signifikan. Tekanan terhadap penurunan emisi dan peningkatan efisiensi mendorong pengembangan pendekatan transportasi energi yang mampu mengintegrasikan aspek operasional, ekonomi, dan lingkungan dalam satu kerangka analitis.
Transformasi industri pengolahan menjadi faktor kunci dalam penguatan struktur ekonomi nasional. Perubahan dinamika global, tekanan kompetisi, serta kebutuhan peningkatan nilai tambah mendorong perlunya pemetaan yang akurat terhadap perkembangan subsektor industri. Struktur industri yang tidak merata memengaruhi kontribusi ekonomi dan daya saing nasional, sehingga diperlukan pendekatan analitis yang mampu membaca pola perubahan secara sistematis dan terukur. Dalam kerangka tersebut, analisis berbasis sistem digunakan untuk memahami arah perkembangan industri secara komprehensif. Integrasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif memungkinkan identifikasi pola pertumbuhan, stabilitas perubahan, serta pengaruh faktor eksternal terhadap kinerja industri. Pendekatan ini memberikan dasar yang kuat dalam perumusan strategi penguatan industri yang adaptif terhadap dinamika ekonomi.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai insiden kegagalan infrastruktur energi di berbagai negara menunjukkan bahwa integritas sistem pipa minyak dan gas menjadi isu global yang semakin krusial. Kebocoran pipa tidak hanya berdampak pada gangguan pasokan energi, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan dan kerusakan lingkungan yang signifikan. Seiring meningkatnya kompleksitas sistem energi dan tuntutan terhadap keandalan operasional, kemampuan untuk mendeteksi anomali secara akurat dan dini menjadi faktor kunci dalam pengelolaan aset energi.
Tika Rianna Iswardhani, mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi) raih predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Teknik untuk kategori Program Magister pada wisuda pascasarjana UGM periode III T.A. 2025/2026. Tika berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.99 dengan masa studi 2 tahun 0 bulan 26 hari, serta mengukir prestasi akademik dengan mempublikasikan 1 jurnal nasional Sinta 2 dan 1 prosiding internasional.
Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen dan dedikasi Tika dalam menjalani studi di MeTSi FT UGM. Sebagai mahasiswa dari konsentrasi energi baru dan terbarukan, Tika melakukan penelitian tentang “Analisis Dampak Kebijakan Pengelolaan Limbah Panel Surya terhadap Pertumbuhan PLTS di Indonesia dengan Pendekatan Sistem Dinamis”. Dengan penelitian ini, Tika berharap dapat memberikan kontribusi lebih dalam untuk dunia profesional dan riset, terutama dalam pengelolaan energi terbarukan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Senin 20 April 2026, Teguh Budi Utomo, mahasiswa MeTSi jalur Magister berbasis Riset mempresentasikan proposal penelitian tesisnya. Teguh mengangkat tema penelitian tentang “Prediksi Daya Keluaran Sistem Oscillating Water Column (OWC) terhadap Variabilitas Gelombang Laut Berbasis Artificial Neural Network (ANN)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi daya keluaran dari sistem Oscillating Water Column (OWC) yang dipengaruhi oleh variabilitas gelombang laut menggunakan Artificial Neural Network (ANN). Sistem OWC merupakan teknologi konversi energi gelombang laut yang mengandalkan pergerakan air untuk menghasilkan energi listrik. Variabilitas gelombang laut yang tidak menentu mempengaruhi kinerja sistem, sehingga diperlukan model yang dapat memprediksi output daya secara akurat.
Keandalan dan efisiensi sistem pembangkitan energi menjadi isu strategis dalam transformasi energi global, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan penetrasi energi baru terbarukan yang bersifat fluktuatif. Dalam sistem kelistrikan modern, pembangkit berbasis turbin gas memegang peran penting sebagai penyeimbang (balancing power) yang mampu merespons perubahan beban secara cepat. Oleh karena itu, kemampuan untuk memprediksi kinerja turbin gas secara akurat dan real-time menjadi semakin krusial dalam menjaga stabilitas sistem, mengoptimalkan operasi, serta meminimalkan risiko gangguan. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Magister Teknik Sistem (MeTSi), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Amalia Dewi, telah melaksanakan seminar proposal tesis pada Jumat (17/4). Ia akan mengembangkan penelitian berjudul “Analisis Kinerja Arsitektur ANN untuk Prediksi Power Output Turbin Gas pada Variasi Laju Massa Aliran dan HHV Bahan Bakar.”