Studi Tekno-Ekonomi Revitalisasi Pump-As-Turbine Sungai Bawah Tanah Bribin II Kecamatan Semanu di Kabupaten Gunungkidul
Mahasiswa Peneliti:
Anggi Rahmawati
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng.
Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng.
Wilayah karst Gunungkidul dikenal memiliki karakteristik geologi yang kompleks, ditandai oleh sistem bawah tanah berupa gua dan sungai yang terbentuk akibat proses pelarutan batu gamping. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air permukaan sangat terbatas, sehingga sebagian besar sumber daya air tersimpan di lapisan bawah tanah. Meskipun cadangan air bawah tanah relatif besar, distribusinya menuju permukaan kerap menjadi kendala utama, terutama pada musim kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan hampir di seluruh kecamatan. Fenomena ini menjadikan pengelolaan sungai bawah tanah sebagai fokus penting dalam upaya penyediaan air bersih dan penguatan ketahanan air di kawasan karst.
Penelitian dilakukan dengan pengambilan data primer di PDAM Tirta Handayani, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), observasi lapangan, dan wawancara. DAS Bribin merupakan salah satu sistem hidrologi utama yang memiliki jaringan sungai bawah tanah luas dan berinterkoneksi dengan beberapa sistem akuifer karst. Sistem Pump-as-Turbine (PAT) atau PAT Bribin II sebelumnya diimplementasikan untuk memanfaatkan energi aliran air bawah tanah menggunakan pompa yang difungsikan sebagai turbin guna menaikkan air ke permukaan dengan pompa tipe multitec. PAT Bribin II tidak lagi beroperasi sejak kerusakan akibat banjir badai Cempaka
– Dahlia tahun 2017. Kajian tekno-ekonomi dilakukan untuk menilai potensi revitalisasi sistem tersebut sebagai solusi yang mendukung mitigasi kekeringan dan pengembangan energi terbarukan di wilayah tropis kering.
Analisis potensi hidrologi menunjukkan bahwa dengan head net sebesar 13,78 m pada modul 1 – 2 dan 13,60 m pada modul 4 – 5, diperoleh potensi daya air masing-masing sebesar 40,86 kW dan 123,29 kW. Hasil ini menegaskan masih tersedianya potensi energi air yang signifikan untuk mendukung revitalisasi sistem PAT sebagai basis pemompaan air bersih. Pemanfaatan sungai bawah tanah ini berpotensi menjadi solusi berkelanjutan bagi daerah dengan keterbatasan infrastruktur listrik dan pasokan air musiman.
Analisis kelayakan ekonomi melalui dua skenario pembiayaan menunjukkan viabilitas tinggi revitalisasi PAT Bribin II. Skenario I (penggantian komponen rusak dengan mempertahankan turbin dan perpipaan layak) menghasilkan NPV positif pada tingkat diskonto 1–30%, IRR 46,98%, BCR dan PI >1, serta periode pengembalian investasi <7 tahun. Skenario II (pembiayaan penuh semua komponen) mencapai NPV positif hingga diskonto 14%, IRR 13,75%, BCR dan PI >1, dengan payback period <19 tahun. Secara keseluruhan, revitalisasi sistem ini layak secara teknis dan ekonomis serta mendukung strategi nasional pengembangan energi terbarukan dan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan di Indonesia.
Kata kunci: pump-as-turbine, PAT Bribin II, analisis tekno-ekonomi, mikrohidro, distribusi air